Politik Pemerintahan

Data Tahun 2020 Sampai Bulan September

197 Ribu Anak di Jatim Nikah Usia 16 – 19 Tahun, Gubernur Akan Terbitkan SE

Surabaya (beritajatim.com) – Berdasarkan data dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) di Surabaya tahun 2019, Perkawinan Anak sebesar 3,29 persen (11.211 dari 340.613). Hingga akhir September 2020 sebesar 4,79 persen (9.453 dari 197.068) usia Perkawinan Anak 19 tahun dan 16 tahun.
Pengajuan dispensasi perkawinan lebih banyak dari perempuan.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto kepada wartawan di kantornya, Senin (11/1/2021).

“Anak sebagai tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri dan sifat khusus, sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, hak partisipasi serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 yang telah diamandemen menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak; Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah diamandemen menjadi Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019,” katanya.

Dalam rangka meningkatkan perlindungan, memenuhi hak-hak anak, untuk mengendalikan kuantitas dan meningkatkan kualitas penduduk atau sumber Daya Manusia (SDM), serta untuk meningkatkan kualitas kesehatan perlu dilakukan pencegahan perkawinan anak.

Andriyanto menjelaskan, dalam waktu dekat Gubernur Jatim akan mengeluarkan surat edaran kepada bupati/wali kota se-Jatim untuk pencegahan perkawinan anak.

Yakni, bupati/wali kota harus memerintahkan atau mengajak kepada Camat, KUA, Lurah/Kepala Desa, Ketua RW, Ketua RT, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Ketua Organisasi Kemasyarakatan dan Pimpinan Lembaga lainnya, masyarakat umum dan seluruh pemangku kepentingan di wilayah, secara bersama-sama turut serta melakukan tindakan pencegahan terjadinya perkawinan anak.

“Termasuk tidak memberikan dukungan terjadinya perkawinan anak baik secara tertulis, lisan atau tindakan lainnya. Sehingga, proses perkawinan hanya boleh dilakukan bila usia calon pengantin pria atau wanita minimum berusia 19 tahun. Namun, sebaiknya dianjurkan perkawinan yang ideal dilakukan jika pengantin pria telah berusia 25 tahun dan pengantin wanita telah berusia 21 tahun,” jelasnya.

Kemudian, pemerintah daerah harus membuat kebijakan dan komitmen anggaran yang mendorong seluruh Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota terkait, untuk melaksanakan pencegahan perkawinan anak.

Lalu, menganjurkan, mendukung, mendorong, serta memfasilitasi kepada seluruh warga untuk dapat memenuhi pelaksanaan Program Wajib Belajar 12 tahun dan lebih baik lagi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada dengan menambah pengetahuan, ketrampilan/skill, keahlian baik secara formal atau non formal.

Dan, lanjut dia, kepala daerah harus memfasilitasi dan menyediakan sarana prasarana guna memberikan layanan konseling keluarga sejahtera dan pendampingan kepada mereka yang karena sesuatu hal dengan sangat terpaksa melakukan perkawinan di usia dini atau sebelum usia 19 tahun.

Kemudian, mereka juga harus memfasilitasi dan mendorong pelaksanaan Sekolah Calon Pengantin bagi remaja yang akan melaksanakan pernikahan guna mendapat ketrampilan dan pengetahuan persiapan kehidupan berumah tangga.

“Dan, mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan jika terjadi perkawinan anak ke pengurus lingkungan RT, RW diteruskan secara terstruktur ke jajaran Pemerintahan yang lebih tinggi ke Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/Walikota dan diteruskan ke Gubernur Jawa Timur secara tertulis baik offline atau online melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kependudukan provinsi Jawa Timur Jl. Jagir Wonokromo 358 Surabaya, Fax (031) 998422454 email : [email protected], [email protected] Watshap : 082139812400, 081231344955,” pungkasnya. [tok/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar