Sumenep (beritajatim.com) – Sebanyak 18 dari 27 Kecamatan di Kabupaten Sumenep terancam mengalami kekeringan pada 2023. Dari 18 kecamatan tersebut, 10 diantaranya merupakan kecamatan daratan, dan 8 lainnya kecamatan Kepulauan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Wahyu Kurniawan Pribadi menjelaskan, status siaga darurat bencana kekeringan di Sumenep berdasarkan SK Bupati nomor: 188/189/KEP/435.013/2023 yang berlaku selama 183 hari, terhitung mulai 1 Juni – 31 November 2023.
“Tapi itu hanya perkiraan. Artinya, status siaga darurat itu bisa diperpanjang atau diperpendek sesuai kondisi penanganan bencana di lapangan,” katanya, Kamis (13/07/2023).
Untuk wilayah daratan, ada 10 kecamatan yang diprediksi mengalami kekeringan yaitu Kecamatan Pasongsongan 4 desa, Ambunten 2 desa, Talango 4 desa, dan Saronggi 2 desa. Kemudian di Kecamatan Rubaru 4 desa, Batuputih 10 desa, Ganding 1 desa, Bluto 1 desa, Pragaan 1 desa, dan Batang-Batang 2 desa.
Sedangkan untuk wilayah kepulauan yang diprediksi kekurangan air bersih ada 8 kecamatan, yaitu Kecamatan Giligenting 1 desa, Kecamatan Gayam 4 desa, Nonggunong 3 desa, dan Raas 1 desa. Selain itu Kecamatan Arjasa 4 desa, Kangayan 5 desa, Sapeken 1 desa, dan Masalembu 1 desa.
“Ada 51 desa yang terdampak kekeringan. 9 diantaranya kering kritis, 42 lainnya kering langka. Kalau kering kritis itu sama sekali tidak ada air. Kalau kering langka itu masih ada sumber air, tetapi lokasinya jauh dan tidak mencukupi kebutuhan,” papar Wahyu.
Ia mengatakan, saat ini sudah ada sejumlah desa yang mengajukan permintaan pengiriman air bersih karena mulai terdampak kekeringan. “Kami segera memproses permintaan dropping air bersih itu. Tinggal menunggu turunnya dana dari pos bantuan tak terduga,” tukasnya. (tem/kun)
BACA JUGA:






