Kota Batu (beritajatim.com) – Sampah organik dan anorganik menjadi tantangan yang selalu ada. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah. Namun, banyak sampah yang tidak dikelola dengan baik, sehingga mencemari lingkungan.
Polistic, sebuah usaha sosial yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk memudahkan proses ini.
Mereka menggunakan sensor IoT (Internet of Things) yang dirancang oleh Utara Setya Wardaya, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya.
“Sensor IoT ini bisa memilah sampah anorganik berdasarkan warna dan ukuran secara otomatis. Sehingga, kita bisa menghemat waktu dan tenaga. Untuk pemilahan berdasarkan bahan, kita masih harus lakukan manual, karena sensor belum bisa mengenali bahan sampah,” jelas Utara.
Selain sensor IoT, Polistic juga memanfaatkan teknologi penstabil suhu, kelembaban, dan pH tanah untuk mengolah sampah organik menjadi pakan maggot. Maggot adalah larva lalat yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Kita ingin memaksimalkan potensi sampah organik yang biasanya tidak termanfaatkan. Dengan teknologi ini, kita bisa menjaga kondisi tanah agar maggot bisa berkembang dengan baik,” tambah Utara.
Meski sudah mengimplementasikan teknologi canggih, Polistic masih kesulitan mendapatkan dukungan dari investor. Mereka masih mengandalkan dana dari perorangan untuk mengembangkan tempat dan mesin.
“Kami berharap teknologi yang kami kembangkan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kami juga berencana untuk menjual sensor IoT ini ke TPS lain, dan mengembangkan usaha kami ke luar Kota Batu. Saat ini, sudah ada beberapa TPS di luar Jawa yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami,” tutur Utara. (ted)






