Ponorogo (beritajatim.com) – Petugas kepolisian dari Polsek Ponorogo Kota sudah menerima laporan kasus kemalingan di toko buah di Jalan Baru Suromenggolo. Polisi pun kini telah melakukan penyelidikan intensif. Korps Bhayangkara itu pun juga sudah mengantongi identitas terduga pelaku maling yang beraksi di toko buah dan terekam CCTV.
“Jika dilihat di CCTV, memang pelakunya masih bocah cilik (bocil). Identitas terduga pelaku juga sudah dikantongi. Ini petugas masih melakukan penyelidikan intensif,” kata Kapolsek Ponorogo Kota, Iptu Muhammad Sahid Mustofa, Senin (22/01/2024).
Rekaman CCTV yang berdurasi 5 menit 10 detik, yang menjadi bukti aksi yang tidak bertanggungjawab itu, juga sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Iptu Sahid mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan lidik. Dari rekaman CCTV, Sahid menyebut bahwa terduga pelaku memang masih bocah cilik.
Pun terduga pelaku juga sudah beberapa kali melakukan pencurian. Ketika telah ditangkap, oleh pihak Polsek Ponorogo Kota, diserahkan ke Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A). “Dulu memang sering terduga pelaku ini tertangkap, karena masih di bawah umur, kita serahkan ke Dinsos,” pungkasnya.
Undtuk diketahui sebelumnya Maling bocah cilik (bocil) sekitar umur 13 tahunan meresahkan pedagang buah di Jalan Baru Suremenggolo Ponorogo. Pasalnya, belum genap seminggu lapak buah milik Siti Nafiatul Fauziah sudah dibobol maling sebanyak 2 kali. Aksi terakhir terekam CCTV yang baru dipasang oleh pemilik lapak buah tersebut.
Aksi maling yang terekam CCTV itu terjadi pada hari Jumat (19/1) dini hari sekitar pukul 03.16 WIB. Maling yang diperkirakan berumur 13 tahun dengan memakai celana pendek selutut dan kaos oblong warna biru itu, awalnya masuk dengan hati-hati. Di dalam lapak, sang maling beraksi sekitar 5 menit, mencari-cari tempat menyimpan uang. Ketemulah dompet yang berisikan uang kurang lebih Rp 400 ribu. Dia pun langsung keluar lewat pintu yang bisa dibuka lewat dalam.
“Sudah 2 kali ini kemalingan dan belum ada seminggu. Setelah kemalingan pertama itu langsung pasang CCTV. Kayaknya maling pertama dan kedua ini ya sama. Bocah sekitar umur 13 tahun,” kata Siti Nafiatul Fauziah.
Aksi pertama itu, dirinya kehilangan uang Rp 800 ribu. Waktu aksi pertama itu yang menunggu tidur di lapak buah, Ia dan suaminya. Padahal saat itu, Ia menyimpan uang di dalam dompet yang berada di dekat Ia tidur. Namun, maling itu berani mengambilnya. Aksi ke dua, yang menunggu lapak buah itu pegawainya. Sama seperti aksi pertama, maling itu bisa mengambil tas dan dompet yang diletakkan di tempat tidur pegawainya.
“Kalau dilihat dari CCTV itu, beraksi sekitar jam 3 pagi. Padahal pegawai saya jam 2 pagi itu masih makan. Mungkin baru saja tidur, sehingga tidak kerasa kalau ada orang yang masuk,” katanya.
Nafia sapaan akrab Siti Nafiatul Fauziah mengungkapkan bahwa yang mengalami kemalingan itu bukan hanya lapaknya saja. Lapak didekatnya pun tidak luput di obrak abrik oleh sang maling. Ada yang cuma diobrak-abrik, ada lapak yang diambil uang kotak amal. Kotak amal yang terbuat dari kaca itu, dipecah dan diambil uangnya. Tidak hanya uang, pedagang di jalan tersebut juga pernah kehilangan tabung gas 3 kilogram.
“Kebanyakan kalau tutup tidak ada yang tidur di lapak. Bebarengan dengan jumat dini hari itu, ada lapak tetangga yang diobrak-abrik, ada juga yang diambil uang kotak amal,” katanya.
Karena kerugian yang ditimbulkan nominalnya tidak banyak, banyak teman sesama pedagang Nafia yang enggan melaporkan kejadian kemalingan tersebut ke pihak berwajib. Berhubung kejadian kemalingan ini, sudah kali kedua diterima oleh Nafia, Ia akhirnya melaporkan kejadian itu ke kepolisian. “Ya mewakili teman-teman pedagang yang kehilangan uang atau tabung gas, dan juga saya sudah dimaling 2 kali, akhirnya hari Jumat itu, saya lapor ke kepolisian,” katanya. (end/kun)






