Mojokerto (beritajatim.com) – Pohon tumbang menutup akses jalan penghubung antara Desa Jembul dan Desa Manting, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Senin (20/1/2026) petang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB dan sempat menghambat aktivitas warga kedua desa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim menjelaskan bahwa pohon yang tumbang berada di tepi tebing pinggir jalan. Diduga, akar pohon tidak mampu menahan beban tanah saat hujan turun sehingga menyebabkan pohon tumbang.
“Pohon tumbang karena berada di pinggir tebing dan akarnya tidak kuat menahan kondisi tanah saat hujan. Akibatnya pohon roboh dan menutup akses jalan penghubung dua desa, Desa Jembul dan Manting,” ungkapnya, Selasa (21/1/2026).
Ia menyebutkan, pohon dengan diameter sekitar 20 sentimeter tersebut tumbang melintang di badan jalan. Meski demikian, material tanah yang ikut terbawa tidak terlalu banyak dan tidak sampai menutup jalan secara keseluruhan. Hanya saja dahan dan ranting yang menutup akses penghubung dua desa.
“Yang menutup akses jalan lebih banyak dahan dan ranting pohon. Material tanah hanya sedikit, terbawa tapi di pinggir jalan. Beruntung, berkat kesiapsiagaan warga bersama petugas terkait, pohon tumbang berhasil dievakuasi dalam waktu singkat sehingga akses jalan kembali bisa dilalui,” katanya.
BPBD Kabupaten Mojokerto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat saat ini wilayah Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem diprediksi akan berlangsung hingga akhir bulan Februari 2026 mendatang.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah lereng pegunungan seperti Jatirejo, Trawas, dan Pacet, agar lebih waspada dan hati-hati terhadap potensi bencana seperti longsor, pohon tumbang, dan angin kencang. Mengingat cuaca ekstrem diprediksi terjadi sampai akhir Februari,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada pihak berwenang jika menemukan tanda-tanda potensi bencana di lingkungan sekitar. Hal tersebut dilakukan demi meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan akibat bencana karena cuaca ekstrem. [tin/aje]






