Magetan (beritajatim.com) – Masuknya kawasan Magetan di Level 4 PPKM kali ini membuat sekolah kembali melakukan pembelajaran dalam jaringan. Namun, pembelajaran daring di SMP N 2 Barat, Magetan cukup berbeda. Yakni, ditunjang dengab radio.
Tak hanya memudahkan guru, orang tua siswa turut terbantu dengan adanya pembelajaran menggunakan radio. Selain hemat kuota, orang tua bisa secara langsung turut memantau pembelajaran dan materi yang diberikan oleh guru melalui ruang siaran radio di Lantai dua gedung multimedia sekolah.
Pembelajaran lewat internet jadi pelengkap pembelajaran lantaran tak semua siswa memiliki ponsel pintar. Begitu pun, masih banyak yang terkendala sinyal bagi yang menggunakan smartphone.
‘’Pelajaran lewat radio disiarkan mulai pukul 07.00 hingga pukul 12.00. Frekuensi 92,0 MHz, dengan daya jangkau sekitar 15 kilometer,’’ ungkap Kepala SMPN 2 Barat Sarmun, Kamis (9/9/2021)
Radio pun memudahkan pembelajaran dan menjangkau sampai rumah siswa hingga titik yang terjauh. Mayoritas siswa tinggal tak jauh dari sekolah, sehingga masih bisa menyimak pembelajaran dari guru melalui radio.
‘’Efektivitasnya mencapai 90 persen dengan support pembelajaran lewat internet untuk pembelajaran tetap bisa dilakukan dua arah. Kami yang memelopori pembelajaran lewat radio di Magetan,’’ katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pembelajaran-jarak-jauh”]
Dia menyebut sejak awal ada pandemi tahun lalu, pembelajaran lewat radio langsung digunakan. Lantaran, guru mengeluh banyak dalam pembelajaran daring atau menggunakan internet.
‘’Nah karena saat itu ada instruksi belajar di rumah, kami langsung gunakan. Berikut dengan sosialisasi terlebih dulu pada orang tua siswa,’’ katanya.
Meski terkesan hanya menerima pelajaran lewat radio, pada dasarnya siswa masih bisa memberikan umpan balik terhadap penjelasan guru. Yakni dengan mengirim pesan baik SMS atau dengan pesan lewat media sosial.

Salah seorang siswa, Zona Amelia Indriyani (15) menyebut kalau belajar menggunakan radio cukup menyenangkan. Meski tak seefektif tatap muka, setidaknya dia masih bisa mendapatkan materi langsung dari guru meski tak bertatap muka.
‘’Lebih hemat, karena radio tidak pakai kuota. Tapi, tidak seru karena tidak ketemu teman-teman,’’ terang Zona.
Sang ayah, yakni David (40) menyebut kalau dirinya cukup terbantu. Selain hemat kuota untuk belajar, dirinya bisa langsung mengawasi anaknya, sembari melakukan pekerjaannya sebagai juru servis sepeda onthel.
‘’Anak belajar atau tidak kan bisa tahu. Tugasnya apa kami bisa pantau. Sehingga, nanti kami bisa cek apakah tugas anak sudah Dikerjaakan atau belum. Ini terobosan sekolah yang sangat membantu orang tua. Utamanya untuk kelas menengah ke bawah,’’ terang David. (fiq/ted)






