Surabaya (beritajatim.com) – Hangat dibicarakan, beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur akan menggelar pemilihan umum kepala daerah dengan calon Tunggal. Salah satunya Surabaya.
Pasangan Eri Cahyadi-Armuji dipastikan melawan kotak kosong setelah KPU menetapkan penyerahan berkas dan menuntaskan rapat pleno pada Minggu (22/9/2024).
Pasangan Wali Kota-Wakil Wali Kota Surabaya 2020-2024 ini dikonfirmasi mendapatkan nomor urut 1 setelah melakukan pengundian bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Harris, Surabaya.
Paslon nomor urut 1 tersebut maju dengan dukungan penuh dari total 18 partai politik (parpol). Mereka berhasil menggenapkan suara baik dari parpol parlemen maupun non-parlemen.
Menanggapi pemilihan walikota yang akan dilaksanakan dengan calon tunggal, tentu saja terdapat beragam perspektif dari masyarakat.
Angga, helper moda transportasi umum Surabaya menyayangkan pencalonan walikota yang hanya diisi satu kandidat.
“Kalau cuma satu yang maju, sisi demokratisasi yang selama ini diagung-agungkan kan ya, nggak sepenuhnya terealisasi.” Ungkapnya.
Mau tidak mau, peristiwa ini membuat masyarakat mengambil kilas balik dari kinerja Eri cahyadi selama satu periode sebelumnya.
Selama masa jabatannya, imbuhnya terdapat beberapa program-program Eri yang menonjol. Diantaranya yaitu masifnya lahan penghijauan dan toleransi besar yang diberikan pemerintah pada lansia di berbagai moda transportasi.
“Di transportasi publik, misalnya. Banyak section yang diperuntukkan khusus untuk lansia. Pastinya itu jadi poin plus selama masa jabatan Pak Eri di periode ini.” Tambahnya.
Hal ini juga serupa dengan yang disampaikan Abida, seorang mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan (Poltekkes) Surabaya.
“Dengan adanya calon tunggal, pastinya kompetisi dalam dinamika politiknya akan cukup tergerus.” Ujarnya menanggapi ramainya isu melawan kotak kosong.
Ia menjelaskan, program-program keberlanjutan yang akan ditangani oleh satu pihak tentu akan menjadi segi positif. Namun, akan lebih baik apabila terdapat persaingan yang adil dalam kontestasi politik.
Bagas, mahasiswa semester 5 UNESA juga menyatakan opininya mengenai calon tunggal dalam pemilihan walikota Surabaya 2024.
Menurutnya, pilwali tahun ini cukup menjadi fenomena ganjil untuk terjadi di kota besar seperti Surabaya.
Dengan total wilayah sebesar ini, sudah sepantasnya Kota Surabaya memiliki sumberdaya kompeten untuk berpartisipasi dan bersaing dalam pemilihan umum.
“Namun, hal ini tetap tidak lepas dari intervensi partai politik. Seperti yang kita lihat di spanduk pinggir jalan, hampir seluruh partai politik menyatakan dukungannya ke paslon ini.” jelasnya.






