Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena politik baru lainnya di kontestasi pemilihan presiden-wakil presiden (Pilpres) 2024 adalah sulitnya mencari figur calon wakil presiden (Cawapres). Sembilan bulan sebelum hajatan pilpres, figur bakal capres telah muncul ke permukaan. Bahkan telah ditentukan dan diputuskan parpol tertentu. Seperti Ganjar Pranowo yang diusung PDIP dan PPP, Prabowo Subianto yang disokong Partai Gerindra, dan Anies Rasyid Baswedan yang didukung Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS.
Siapa bakal cawapres ketiga bakal capres tersebut? Belum ada, belum ditentukan, dan belum diputuskan. Pilpres 2024 ditandai dengan sulit dan peliknya menentukan figur bakal cawapres.
Memang, di diskursus publik baik via platform media mainstream dan media sosial, ada sejumlah nama figur populer yang layak dilambungkan sebagai bakal cawapres. Seperti Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim/Mulimat NU), Agus Harimurti Yudhoyono (Ketuam DPP Partai Demokrat), Ridwan Kamil (Gubernur Jabar/Partai Golkar), Airlangga Hartarto (Ketum Partai Golkar/Menko Perekonomian), Machfud MD (Menko Polhukam/NU), Muhaimin Iskandar (Ketum PKB/NU), Muhajir Effendi (Menko PMK/Muhammadiyah), Erick Thohir (Meneg BUMN/Profesional), Sandiaga S Uno (Menparkraf/Profesional), dan lainnya.
Barisan nama-nama politikus dan tokoh nasional itu telah beredar. Nama mereka telah masuk lembaga survei kredibel. Tapi, hingga 9 bulan menjelang hajatan kontestasi Pilpres 2024, belum ada parpol dan atau gabungan parpol yang mengusung bakal capres telah memutuskan dan menentukan bakal cawapresnya.
Kenapa? Pertama, sejumlah hasil survei terakhir menunjukkan dari tiga figur bakal capres yang muncul: Ganjar, Prabowo, dan Anies, tak ada unggul secara tajam dalam perspektif politik elektoral. Bahkan, antara Ganjar dengan Prabowo perbedaan elektabilitasnya masuk dalam angka margin of error.
Baca Juga:
Pilpres 2024 dan Figur Representasi Wilayah Politik
Sulit menyimpulkan di antara Ganjar dan Prabowo siapa yang dipastikan unggul mutlak ketika kontestasi Pilpres 2024 berlangsung.
Pun demikian dengan Anies. Sekali pun seringkali menempati posisi ketiga dari hasil survei capres sejumlah lembaga, mantan Gubernur DKI Jakarta bukan berarti pupus harapannya di Pilpres 2024 nanti. Sebab, sejauh tiga parpol pengusungnya: Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS tetap solid dan istiqomah mengusung Anies sebagai capres, peluang alumni FE UGM Yogyakarta merebut kursi RI-1 tetap terbuka.
Perbedaan elektabilitas Anies vis a vis Ganjar dan Prabowo tak sampai dua digit. Peluang untuk mengejar dan meningkatkan elektabilitas Anies tetap terbuka. Peluang itu makin terbuka jika parpol pendukung dan elite politik yang mengusung Anies punya loyalitas dan militansi politik tinggi dalam manapaki tahapan pertarungan politik ini.
Poin kedua, figur bakal cawapres di Pilpres 2024 diharapkan memberikan insentif elektoral yang signifikan kepada capres pasangannya. Cawapres bukan sekadar ban serep dan figur pelengkap secara politik. Cawapres diekspektasikan memberikan sumbangsih suara signifikan kepada capres pasangannya. Maklum, di Pilpres 2024 ini tak ada calon yang berposisi sebagai incumbant atau petahana. Semuanya bergerak dari garis start yang sama.
Yang membedakan adalah ada calon yang berasal dari rezim penguasa dan disokong kekuasaan. Sementara calon lainnya berada di garis luar kekuasaan dengan positioning sebagai kekuatan oposisi. Ada kekuatan tesa politik yang sedang bertarung versus kekuatan antitesa politik kekuasaan sekarang.
Baca Juga:
Mencarikan Pasangan untuk Prabowo di Pilpres 2024
Sekiranya Pilpres 2024 diikuti tiga pasangan capres-cawapres, satu calon tertentu untuk merebut raihan 50 persen suara lebih sangatlah sulit. Kecuali di Pilpres 2009, di mana pasangan SBY-Budiono menang satu putaran atas pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Pilpres 2009 diikuti tiga pasangan capres-cawapres, di mana ada dua pasangan capres-cawapres merupakan kekuatan incumbant/petahana (SBY-Budiono) dan JK-Wiranto. Saat itu JK adalah Wakil Presiden dari Presiden SBY.
Karena itu, insentif elektoral dari figur cawapres di Pilpres 2024 menjadi poin penting merebut suara massa di pilpres kali ini. Figur cawapres diharapkan mengkontribusi suara cukup signifikan kepada pasangannya. Dalam perspektif demikian, tokoh politik populer yang memiliki basis sosiologi dan politik yang kuat, besar, dan mengakar, lalu politikus dengan kapasitas ekonomi serta akseptabilitas politik yang luas dan kuat memiliki peluang besar digandeng sebagai cawapres.
Dalam perspektif demikian, kita bisa memahami mengapa menentukan dan memutuskan figur cawapres di Pilpres 2024 ini berjalan alot, lamban, dan prudent. Sebab, salah memilih cawapres, bisa-bisa figur capres yang selama ini hasil survei elektabitasnya tinggi bisa menjadi stagnan dan dilewati capres dengan pasangan cawapres yang mampu mengkontribusi insentif elektoral yang memadai. [air]






