Jombang (beritajatim.com) – Paziarah yang mengalir ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Ponpes (Pondok Pesantren) Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Senin (1/11/2021), tidak keberatan mematuhi protokol kesehatan (prokes) yang diterapkan pengurus. Hal itu menyusul dibukanya kembali makam tersebut setelah tutup selama 19 bulan selama pandemi Covid-19.
Sebagai penanda dibukanya kembali makam Gus Dur untuk umum, pimpinan dan jajaran pengurus Pesantren Tebuireng menggelar tahlil dan doa bersama di pendapa maqbaroh (makam). Selain Gus Dur, di lokasi tersebut juga terdapat makam pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Pahlawan Nasional KH Wahid Hasyim, Presiden RI ke-empat KH Abdurrahman Wahid, kemudian KH Yusuf Hasyim dan KH Salahuddin Wahid, serta makam tokoh-tokoh Tebuireng lainnya.
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin turut hadir dan juga mewakili seluruh jajaran civitas Pesantren Tebuireng untuk meresmikan kembalinya kegiatan ziarah. Dia mengatakan, penutupan kegiatan ziarah di Pesantren Tebuireng dimulai pada 16 Maret 2020, dikarenakan meningkatnya kasus Covid-19.
Sejak itu, peziarah umum tidak bisa menggelar doa dan tahlil di makam tersebut. Walhasil, seiring berjalannya waktu, kasus Covid-19 menunjukkan tren menurun. Bahkan, Kabupaten Jombang masuk pada PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 1.
“Hingga akhirnya hari ini kita telah kembali membuka kegiatan ziarah bagi masyarakat umum. Dengan syarat, setiap perziarah harus senantiasa mematuhi prokes yang telah ditetapkan oleh Pesantren Tebuireng,” ujar Gus Kikin saat berada di maqbaroh.
Meksi sudah terbuka untuk umum, lanjut Gus Kikin, jam ziarah ke keluarga dan masyayikh (sesepuh) Pesantren Tebuireng, masih dibatasi, yakni dibuka mulai jam 08.00 hingga 13.00 WIB. Pembatasan jam tersebut dimaksudkan agar masyarakat yang berziarah tidak berkontak fisik secara langsung dengan para santri yang telah menetap di pondok.
[berita-terkait number=”5″ tag=”makam-gus-dur”]
“Sekali lagi kami ingatkan agar peziarah senantiasa mematuhi penerapan prokes secara ketat. Yakni, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, serta menjaga jarak. Hal itu untuk memutus rantai penyebaran Covid-19,” imbuh cicit Hadratusyyaikh KH Hasyim Asy’ari ini.
Salah satu peziarah, M Zainal, tidak keberatan dengan aturan yang ditetapkan pengurus Pesantren Tebuireng Jombang. Karena hal itu untuk kebaikan bersama. Oleh karenanya, Zainal bersama rombongan benar-benar mematuhi protokol kesehatan saat memasuki komplek makam Tebuireng.
“Saat berdoa di makam, kami menjaga jarak antara satu dengan lainnya. Seluruh rombongan kami juga mengenakan masker. Kemudian saat masuk gerbang juga mencuci tangan menggunakan sabun, serta dicek suhu tubuh. Alhamdulillah, kami bisa berziarah ke makam Gus Dur dan Mbah Hasyim (KH Hasyim Asya’ari),” ujar peziarah asal Jawa Tengah ini. [suf]






