Jember (beritajatim.com) – Petugas Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai kewalahan menghadapi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) ternak. Jumlah petugas tak seimbang dengan kegiatan vaksinasi yang harus dilakukan.
“Bukan kami mengeluh. Keadaan ini adalah keadaan luar biasa. Ada yang tidak pernah kami perhitungkan sebelumnya. Kami kewalahan,” kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Sugiarto, ditulis Selasa (12/7/2022).
Kabupaten Jember mendapat jatah vaksin untuk delapan ribu ekor sapi. “Sama-sama darurat, kami hanya dikirimi vaksin, tak ada peralatan lain. Entah bagaimana caranya pokok diinjeksikan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Andi Prastowo.
“Bayangkan, kami memvaksinasi delapan ribu ekor ternak ini saja, teman-teman sudah ‘ngomel’ semuanya. Ini beda dengan vaksin Covid. Kami yang mendatangi dari kandang ke kandang. Hewan ini tidak bisa dikumpulkan,” kata Sugiarto.
Jarak antarkandang pun berjauhan. “Itu lumayan berat buat teman-teman di lapangan. Apalagi nanti kalau jumlahnya banyak, kita ada vaksin pertama dan kedua yang durasinya hanya butuh satu bulan. Bisa jadi kita vaksin pertama saja belum selesai, sudah masuk masa vaksin kedua. Kalau vaksin boosternya agak lama, enam bulan, mungkin kami masih bisa (melakukan). Tapi untuk vaksin pertama dan kedua yang jaraknya pendek ini kami masih memikirkan solusinya seperti apa,” kata Sugiarto.
Jumlah hewan ternak yang harus divaksin juga bisa bertambah, bukan hanya sapi. Sugiarto mengatakan, kambing dan domba juga terkena PMK. “Cuma secara genetik, kambing dan domba lebih tahan imunitasnya. Walau kena, tidak menunjukkan gejala. Ada yang bergejala tapi sedikit sekali,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
Kambing dan domba yang kena PMK tapi tak bergejala akan menjadi pembawa. “Dia sehat-sehat saja, tapi menularkan virus ke sapi. Jadi ke depan vaksinasi juga dilakukan terhadap kambing dan domba. Bisa dibayangkan, berarti ada lebih dari 300 ribu ternak yang harus kami vaksin. Jujur, kami kewalahan,” kata Sugiarto.
Sekretaris Komisi B DPRD Jember David Handoko Seto meminta agar ada dukungan anggaran untuk vaksinasi oleh petugas. “Jangan sampai mereka hanya disuruh, tapi tidak ada anggarannya. Posisi hati ini darurat bencana, kita butuh ekstra anggaran,” katanya. [wir/but]






