Gresik (beritajatim.com) – Peternak sapi terus diedukasi tentang pengolahan limbah pertanian menjadi pakan ternak fermentasi. Edukasi ini disampaikan Petrokimia Gresik kepada Koperasi Tani Ternak Literasi Sumber Rezeki dari Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, melalui program Edufarm.
Kelompok peternak tersebut semula mendapat edukasi dari Petrokimia Gresik tentang Bagaimana membuat silase atau pengelolaan limbah pertanian menjadi pakan ternak fermentasi. Hal ini menjadi solusi yang ditawarkan peternak untuk mengatasi masalah pembakaran limbah pertanian yang berdampak buruk terhadap lingkungan.
“Edufarm literasi bertujuan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat dari berbagai usia tentang pengelolaan ekosistem tani ternak yang terintegrasi,” ujar Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumber Rejeki, Tomi Distianto, Selasa (11/10/2022).
Diakui Tomi, saat ini kelompoknya mampu mengolah limbah pertanian sebanyak 60 ton per tahun menjadi silase. Tidak hanya dimanfaatkan untuk ternak sendiri namun juga dijual ke beberapa peternak sapi di wilayah Lamongan.
“Bahan limbah ternak yang kami patenkan tidak hanya dipasarkan di Lamongan. Tetapi juga dipasarkan ke Jombang, Bojonegoro, Mojokerto, Gresik, Malang dan Tuban,” ujarnya.
Selain dipakai untuk pakan ternak, lanjut dia, limbah tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk media tanam yang diaplikasikan di kebun percobaan dengan memanfaatkan lahan tidur di sekitar kandang. Kebun ini ditanami berbagai tanaman hortikultura dan tanaman toga, seperti tomat, cabai, kunyit dan lain sebagainya.
Hasil panennya kemudian digunakan oleh istri peternak sebagai bahan baku usaha catering dan minuman jamu kunyit asam.
“Dengan demikian, ibu-ibu di Desa Sumbersari juga terberdayakan dan dapat menambah penghasilan keluarga,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Gresik”]
Limbah kotoran sapi ini kata dia, juga diolah menjadi biogas sebagai bahan bakar kompor dan lampu untuk aktivitas operasional di kandang. Residu biogas cair kemudian dimanfaatkan menjadi akuakultur dan residu padat menjadi media budidaya cacing yang juga bernilai ekonomi, sehingga tidak menyisakan limbah yang terbuang sia-sia.
“Dari semua itu, peternak hanya perlu menyetorkan 15 karung kotoran sapi sebagai pengganti premi asuransi yang dibayarkan koperasi untuk satu ekor sapi,” katanya.
Sementara itu, Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satryo Annurogo menyatakan cikal bakal program ini berawal dari ‘Suri Insap’ atau Sumbersari Industri Sapi yang dijalankan kelompok tani ini mulai tahun 2018, di mana pada saat itu hanya berfokus pada pengelolaan limbah pertanian menjadi pakan fermentasi atau silase.
“Melalui berbagai pembinaan berkelanjutan, program ini terus berkembang dan mampu menjadi solusi serta memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi pelakunya tetapi juga masyarakat,” paparnya.
Ia menjelaskan semula pengembangan pertama dilakukan pada tahun 2019 hingga 2020, dimana anggota kelompok mulai memanfaatkan limbah ternak yang selama ini menjadi momok lingkungan. Kemudian di tahun 2021, program literasi mulai fokus pada pelibatan seluruh sektor baik itu pertanian, peternakan, serta potensi lain yang ada di desa untuk bersinergi membentuk kandang edukasi. [dny/beq]






