Magetan (beritajatim.com) – Aliran sungai di Desa Pacalan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur tercemar limbah kotoran sapi yang diduga berasal dari Kampung Susu Lawu Lingkungan Singolangu dan Lingkungan Duwet, Kelurahan Sarangan, Plaosan, Magetan.
Selain air sungai berbau kotoran sapi, aliran yang juga digunakan untuk irigasi itu juga berdampak pada rusaknya tanaman selada air di Desa Pacalan.
Yatno, salah seorang petani desa setempat mengaku jika tanaman selada airnya rusak akibat aliran sungai yang tercemar limbah tersebut.
Dia menduga jika kotoran sapi yang dibuang di sungai itu berasal dari Kelurahan Sarangan karena semenjak ada Kampung Susu Lawu, di aliran sungai semakin banyak kotoran sapi. Bahkan, air berwarna hijau kecoklatan mirip warna tai sapi.
“Karena ada keletong (tai sapi) tanaman jrembak atau selada air milik kami rusak. Rusaknya yakni berupa munus atau kekuningan dan akhirnya membusuk. Sudah lama kondisinya seperti ini, lebih parah ketika ada limbah kotoran sapi yang dibuang di sungai yang mengarah ke irigasi kami,” kata Yatno, Kamis (21/7/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Pantauan beritajatim.com pada Kamis (21/7/2022), sungai tak hanya berbau kotoran sapi, tapi juga terdapat sampah plastik. Terlihat pula, sisa makanan yang diduga dari limbah rumah tangga. Warnanya pun sudah tak bening lagi dan sudah kecoklatan.
Kondisi itu turut dibenarkan oleh Kades Pacalan Agus Suharto. Agus menyebut jika pencemaran ini sempat ramai pada April 2022. Namun, kini kembali terulang dan seolah tak ada perubahan. Dia mengungkapkan jika sungai akan berbau menyengat saat kotoran sapi mengalir pada pagi dan sore hari. Di jam-jam itulah peternak sapi di daerah atas tengam membersihkan kandang.
“Memang benar kotoran padatnya dikumpulkan, tapi untuk membersihkan kandang kan tetap disemprot, sisa kotoran yang disentor air ini yang mengalir ke sungai dan sampai di sungai yang mengalir di desa kami,” kata Agus, Kamis (21/7/2022).

Dia kerap menerima keluhan dari petani selada air. Agus juga melihat sendiri bagaimana tanaman itu berakhir munus dan busuk akibat air irigasi yang tercemar kotoran sapi dan sampah. Padahal, mayoritas petani di Desa Pacalan jadi penghasil jrembak terbesar di wilayah Karesidenan Madiun.
“Selada air kita ini dikirim ke sejumlah pasar di Karesidenan Madiun. Kalau airnya seperti ini petani kami jadi berkurang produksinya. Kami mengharap segera ada solusi dari pencemaran ini,” kata Agus. (fiq/ted)






