Lamongan (beritajatim.com) – Sebagai Kabupaten yang memiliki area lahan pertanian yang cukup luas, Lamongan mampu menghasilkan padi, jagung, lombok, tembakau, dan tanaman lainnya hingga ribuan ton per tahunnya.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, Kabupaten Lamongan tercatat menjadi Kabupaten penghasil padi terbesar se-Jawa Timur.
Kendati demikian, menurut DPC Gerbang Tani Lamongan, saat ini masih terdapat sejumlah petani di Lamongan yang mengaku kesusahan dan bertahan sendirian.
Tak hanya itu, kehadiran Pemerintah setempat juga dinilai masih kurang maksimal dalam menangani persoalan pertanian di kota soto ini.
Ketua DPC Gerbang Tani, M. Syukrillah menyebutkan, bahwa sejumlah masalah yang kerap dialami oleh para petani tersebut di antaranya mulai dari bibit, hama, pupuk, bencana alam berupa banjir, hingga masalah stabilitas harga paska panennya.
“Menyikapi itu semua, maka saat ini kami sedang melakukan mapping isu pertanian di 3 (tiga) wilayah Kabupaten Lamongan melalui kegiatan rembuk bersama para petani secara langsung,” ujar Ariel, sapaan akrab M Syukrillah kepada wartawan, Senin (15/11/2021).
Lebih lanjut, Ariel menyampaikan, kegiatan rembuk tani yang digelar bertahap di 3 wilayah ini meliputi Lamongan bagian tengah di Desa Kemlagilor Kecamatan Turi bersama para petani kawasan bengawan Njero Lamongan, tanggal 13 November 2021.
Lalu, di bagian selatan, berlokasi di Desa/Kecamatan Ngimbang yang digelar tanggal 14 November 2021. Serta Lamongan utara di Desa Banjarwati dalam acara Kongkow Petani Muda Lamongan “Harapan dan Tantangan Penguatan Pertanian”, yang digelar di Blosoo Kopi Banjarwati Paciran, tanggal 15 November 2021.
“Hasil dari rembuk tani yang kami lakukan bersama para petani ini kemudian menghasilkan beberapa poin rekomendasi. Maka, DPC Gerbang Tani Lamongan mendesak Pemkab Lamongan untuk hadir membantu para petani tersebut dengan melakukan langkah-langkah taktis strategis,” tutur Ariel, dalam keterangannya.

Adapun desakan kepada Pemkab Lamongan tersebut, lanjut Aril, yakni mendorong dan memerintahkan petugas pertanian berupa penyuluh pertanian untuk meningkatkan edukasi dan peran-peran advokasinya kepada petani. Lalu, mendorong segenap stake holder pemerintah terkait untuk melakukan aksi nyata penanggulangan hama, khususnya tikus yang semakin meresahkan semua petani.
Dalam kesempatan yang sama, Hendik Irwanto, salah satu petani asal Paciran yang juga hadir dalam kegiatan rembuk tani tersebut mengharapkan, agar Pemerintah Kabupaten Lamongan memaksimalkan peran BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dalam penyerapan hasil pertanian di Kabupaten Lamongan.
“Kami juga minta untuk segera direalisasikan adanya Perda perlindungan komoditas pertanian di Kabupaten Lamongan. Semoga apa yang kita harapkan dari kegiatan rembuk tani ini menjadi perhatian dari semua pihak, utamanya Pemkab Lamongan,” harapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
Sementara itu, Ketua DPRD Lamongan H. Abdul Ghofur menuturkan, jika pihaknya sangat mendukung langkah dan inisiasi dari teman-teman Gerbang Tani bersama para petani Lamongan tersebut. Serta berharap Pemkab Lamongan segera mengambil langkah taktis sebagaimana aspirasi para petani.
“Pemkab Lamongan harus mendengarkan dengan seksama keluhan-keluhan petani yang disampaikan melalui rembuk tani. Terlebih di musim hujan seperti ini, para petani mulai menanam, maka persoalan hama tikus dan penanggulangan banjir harus menjadi perhatian serius Pemkab Lamongan. Bagaimanapun, perlindungan petani adalah kewajiban kita semua,” paparnya.[riq/ted]






