Banyuwangi (beritajatim.com) – Sebuah pesantren di Banyuwangi menjadi saksi bisu berdirinya organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren tersebut adalah Pesantren Lateng di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi Kota.
GP Ansor awal terbentuk pada 10 Muharram 1353 Hijriah, bertepatan dengan 24 April 1934. Awalnya, nama organisasi ini adalah Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO) sebelum adanya perubahan dalam AD/ART NU.
Penetapan tersebut tertuang dalam sidang Majelis Syuriyah Muktamar ke-IX Nahdlatul Ulama. Dalam sidang tersebut, menghasilkan sejumlah keputusan penting. Di antaranya adalah diterimanya Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) sebagai bagian resmi dari NU.
“ANO ini kini dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Badan Otonom NU yang memiliki keanggotaan terbesar dalam organisasi kepemudaan di dunia,” jelas founder Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro.
BACA JUGA:
Banyuwangi Jadi Lumbung Jagung dan Cabai Rawit di Jawa Timur
Secara keseluruhan, gedung pesantren tersebut selesai dibangun pada 1918. Pemrakarsa pesantren itu tidak lain adalah pengasuhnya, Kiai Saleh Syamsudin.
Meski kini tersisa bangunan kuno nan bersejarah namun aktivitas kegiatan Islam masih terus berlangsung. Terakhir, lokasi ini menjadi tempat kegiatan Festival Kitab Kuning.
BACA JUGA:
Panen 250 Ribu Ton, Produktivitas Jagung Banyuwangi Perlu Dipertahankan
Belakangan ada sejumlah kelompok yang mengajukan kawasan dan bangunan itu menjadi cagar budaya. Hal ini mengingat lokasi itu memiliki nilai historis yang panjang.
Pesantren Lateng menyimpan sejumlah manuskrip kuno yang juga berpotensi menjadi cagar budaya. Seperti halnya Babad Tawangalun beraksara pegon ataupun naskah-naskah yang berasal dari Kesultanan Palembang. [rin/beq]






