Malang (beritajatim.com) – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti prosesi Bai’at Dokter Muslim Periode XLIII Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Malang (Unisma). Di balik kebahagiaan para dokter baru, terselip pesan mendalam dari Dekan FK Unisma, dr. Rahma Triliana, M.Kes., Ph.D., yang menegaskan bahwa karakter jauh lebih utama dibanding pencapaian akademis.
Dalam sambutannya, dr. Rahma menyoroti perjuangan luar biasa yang telah dilalui para lulusan. Ia menekankan bahwa angka dan nilai bukanlah tolok ukur kesuksesan yang sesungguhnya.
“Angka hanyalah angka. Yang saya sangat hargai adalah perjalanan anak-anak ini untuk sampai ke hadapan kita,” ujar dr. Rahma saat prosesi bai’at di Gedung Pascasarjana Unisma lantai 7, Sabtu (18/10/2025).
Ia mengibaratkan pendidikan profesi dokter sebagai kawah candradimuka — tempat para mahasiswa ditempa selama 100 minggu di berbagai rumah sakit, ditambah perjuangan berat menghadapi Ujian Kompetensi Nasional (UKMPPD).
Lebih lanjut, dr. Rahma membagikan kisah inspiratif di balik kelulusan periode ini. Beberapa mahasiswa harus mengambil keputusan sulit yang mencerminkan kekuatan karakter mereka. “Ada yang mundur ujian karena hamil, ada pula yang menunda ujian demi mempersiapkan diri agar bisa lulus dengan hasil terbaik,” ungkapnya.
Ia secara khusus mengapresiasi Yovita, salah satu lulusan yang menunda ujian untuk memperbaiki diri, hingga akhirnya meraih nilai CPT tertinggi pada periode ini. Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Bagi dr. Rahma, kisah-kisah tersebut menjadi bukti nyata resiliensi dan kegigihan mahasiswa FK Unisma. “Semua kembali pada perseverance. Kalau kita selalu tangguh, berusaha, dan konsisten pada cita-cita, kita pasti bisa sampai di titik ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Nilai bisa dicari, angka bisa didapat, tapi karakter tidak bisa dibentuk seketika. Karakter tumbuh karena kalian berani menjalani kehidupan kalian dengan jujur dan berani.”
Pada momen penuh haru itu, dr. Rahma juga berpesan agar para dokter baru tidak pernah melupakan jasa orang tua. Ia menggunakan metafora ‘pundak raksasa’ untuk menggambarkan pengorbanan mereka.
“Kalian bisa sampai di sini bukan hanya karena guru, tapi karena kalian berdiri di atas pundak raksasa bernama orang tua,” tuturnya.
Pesan senada disampaikan oleh Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., yang turut memberikan selamat kepada para dokter baru dan orang tua mereka. “Pundak raksasa Panjenengan sangat kuat, sehingga mampu mengantarkan putra-putri Panjenengan meraih cita-cita menjadi dokter. Selamat untuk semuanya,” ujar Prof. Junaidi.
Ia menutup pesannya dengan mengingatkan agar para dokter baru senantiasa menjaga nama baik diri, keluarga, dan almamater Unisma dalam mengemban profesi mulia sebagai dokter muslim. (dan/kun)






