Jakarta (beritajatim.com) – PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuat Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Saat ini ada dua SPKLU yang diluncurkan yakni di MT Haryono dan Lenteng Agung. Keduanya di Jakarta Selatan.
Menteri ESDM Arifin Tasrif berharap kerja sama antara BPPT dan Pertamina membantu pemerintah mempercepat tercapainya target pembangunan SPKLU mencapai 25 ribu unit pada 2030. Sementara saat ini, pembangunan SPKLU sudah mencapai 147 unit di 115 lokasi.
“Inisiatif ini bisa mempercepat tercapainya target yang sudah dicanangkan,” harap Arifin yang diwakilkan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana
Dia memastikan, pihaknya akan memberikan dukungan berupa perizinan, skema badan usaha, tarif listrik, insentif, hingga kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan.
“Ini untuk mempercepat penggunaan energi yang lebih bersih dan hemat impor BBM serta dapat menghemat subsidi BBM pada akhirnya,” ujarnya.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap dengan keberadaan SPKLU mampu meningkatkan kepercayaan terhadap penggunaan kendaraan listrik.
“Lokasi yang sangat dipilih strategis karena diletakkan pada lokasi SPBU yang sudah lama beroperasi,” ujar Menhub Budi Karya, dalam acara peluncuran tersebut, Kamis (5/8/2021).
Dalam mendukung ekosistem kendaraan ramah lingkungan berbahan bakar listrik, pemerintah telah menargetkan pembangunan SPKLU sebanyak 25.000 unit hingga tahun 2030. Saat ini jumlah SPKLU yang selesai dibangun dan beroperasi mencapai 147 unit di 115 lokasi di seluruh Indonesia.
Dia mengapresiasi kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan PT Pertamina (Persero). Menurutnya, kerja sama kedua lembaga itu akan memudahkan peninjauan teknis dan nonteknis SPKLU.
“Kami berharap ini menjadi awal dan contoh yang baik untuk pelaku usaha, seperti Pertamina dapat masuk dan mendukung percepatan penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia,” ujar Menhub Budi Karya.
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama Pertama Nicke Widyawati menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk menurunkan karbon emisi sebanyal 30% di tahun 2030. Maka itu, sebagai BUMN yang menjalankan bisnis bahan bakar fosil, transformasi mesti dilakukan secara dilakukan dengan cepat.
“Sebagai perusahaan BUMN yang hari ini menjalankan bisnis didominasi oleh fosil energi maka transformasi yang harus dijalankan Pertamina, harus dilaksanakan secara signifikan dan secara cepat,” katanya.

Menurutnya, salah satu langkah yang ditempuh ialah mendorong sektor transportasi untuk masuk ke elektrifikasi. Pertamina sendiri telah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan SPKLU, salah satunya dengan BPPT.
“Ada 3 yang dikerjasamakan dengan BPPT alhamdulilah sudah beroperasi. Kami masih mengurus perizinan sehingga 2 lokasi ini sudah dioperasikan dan kepada masyarakat ini sudah dapat digunakan secara gratis dan kapan nanti dikomersialisasikan ketika perizinan ini sudah selesai,” kata Nicke.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pertamina”]
Sementara Deputi Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan pihaknya saat ini sedang mengembangkan prototipe SPKLU fast charging untuk sepeda motor dan mobil.
“BPPT telah berperan dalam jejaring ekosistem dan turut serta meningkatkan ekosistem KBLBB dengan melakukan Litbang Jirap KBLBB yang fokus pada charging station, motor proporsi, baterai, layanan kaji terap, serta rekomendasi, dan peningkatan TKDN,” ujar Listiani.
Di samping itu, lanjutnya, Pertamina juga turut terlibat dalam pengembangan ekosistem mobil listrik. Yaitu pengembangan ekosistem baterai listrik bersama-sama BUMN lain mengembangkan bisnis dari ekosistem bateri listrik dalam IBC Indonesia Baterry Corporation dari hulu ke hilir. (hen/ted)






