Ringkasan Berita
- Manajemen Persik Kediri menegaskan komitmen tetap berkandang di Kota Kediri dan tidak ingin bermain di luar daerah.
- Direktur Persik Kediri Souraiya Farina menyebut infrastruktur menjadi salah satu tantangan dalam pemenuhan persyaratan lisensi klub.
- Manajemen mengapresiasi pembenahan Stadion Brawijaya oleh Pemkot Kediri, tetapi menilai masih ada kebutuhan yang perlu ditindaklanjuti.
- Persik mendorong kolaborasi Pemkot dan Pemkab Kediri untuk mendukung perkembangan klub, infrastruktur, serta potensi ekonomi daerah.
Kediri (beritajatim.com) – Manajemen Persik Kediri menegaskan komitmennya untuk tetap menjadikan Kota Kediri sebagai markas Macan Putih. Namun, keberlanjutan penggunaan Stadion Brawijaya untuk kompetisi sepak bola profesional masih membutuhkan pembenahan infrastruktur dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah.
Direktur Persik Kediri, Souraiya Farina, mengatakan pemenuhan standar stadion menjadi salah satu tantangan penting bagi klub dalam memenuhi persyaratan lisensi. Menurutnya, infrastruktur perlu mendapat perhatian agar Persik dapat terus menjalani kompetisi profesional dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Empat pilar tersebut adalah masalah keuangan dan yang lainnya. Di area tersebut, posisi Persik Kediri, tantangan pertamanya adalah infrastruktur,” ujarnya, Kamis (23/10/2026).
Farina menjelaskan, persyaratan lisensi klub merupakan bagian penting dalam pengelolaan sepak bola profesional. Karena itu, pemenuhan standar tidak hanya menyangkut aspek administrasi dan keuangan, tetapi juga kesiapan fasilitas pendukung pertandingan.
Stadion Brawijaya Perlu Terus Dibenahi
Farina mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Kediri yang telah melakukan sejumlah pembenahan di Stadion Brawijaya. Menurutnya, koordinasi antara manajemen Persik dan pemerintah daerah diperlukan untuk memastikan fasilitas stadion dapat memenuhi persyaratan kompetisi.
Meski sejumlah perbaikan telah dilakukan, masih terdapat kebutuhan infrastruktur yang perlu ditindaklanjuti melalui perencanaan dan koordinasi lebih lanjut.
Bagi Persik, keberadaan stadion yang memenuhi standar bukan sekadar kebutuhan teknis untuk menggelar pertandingan. Stadion juga menjadi bagian penting dari identitas klub dan kedekatan tim dengan pendukungnya di Kediri.
Karena itu, manajemen menegaskan tidak ingin memindahkan pertandingan kandang ke luar daerah apabila masih memungkinkan untuk mempertahankan Stadion Brawijaya sebagai markas tim.
“Apapun yang terjadi, kita memastikan bahwa Brawijaya tetap harus bisa diterima. Karena kita enggak mau keluar dari Kediri,” terangnya.
Ia kembali menegaskan sikap manajemen mengenai lokasi pertandingan kandang Persik.
“Poinnya adalah kita enggak mau main di luar Kediri itu ya. Apapun yang terjadi, kita harus main di Kediri. Haram kita main di luar,” tegas Farina.
Pernyataan tersebut menegaskan keinginan manajemen untuk mempertahankan hubungan klub dengan kota asalnya. Meski demikian, penggunaan stadion untuk kompetisi tetap harus memperhatikan hasil penilaian dan persyaratan resmi yang berlaku.
Persik Dorong Kolaborasi Kota dan Kabupaten Kediri
Farina menilai perkembangan Persik Kediri tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab manajemen klub. Dukungan pemerintah daerah, baik Pemerintah Kota Kediri maupun Pemerintah Kabupaten Kediri, dinilai penting untuk mendorong keberlangsungan klub sekaligus mengembangkan potensi sepak bola di wilayah Kediri.
Menurutnya, meskipun Persik berdomisili di Kota Kediri, basis dukungan dan potensi ekonomi yang terkait dengan klub tidak semestinya dibatasi oleh wilayah administrasi.
“Domisilinya Persik Kediri adalah kota. Dan kita tidak ingin ada pembeda antara kota dan kabupaten. Kalau pun kita di kota, bukan berarti kita miliknya kota doang,” ujarnya.
Kolaborasi antarpemerintah daerah dinilai dapat membuka ruang dukungan yang lebih luas, baik dalam pengembangan fasilitas olahraga maupun pemanfaatan sepak bola sebagai penggerak aktivitas ekonomi.
Persik memiliki potensi untuk turut mempromosikan Kediri melalui pertandingan, aktivitas suporter, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan klub. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan yang terkoordinasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Secara bisnis ini perlu di-upgrade. Jadi, enggak bisa Persik Kediri doang, harus juga dari sisi kota dan kabupaten,” tandasnya.
Menjaga Markas dan Masa Depan Macan Putih
Komitmen Persik untuk tetap bermain di Kota Kediri memperlihatkan pentingnya sinergi antara klub dan pemerintah daerah. Di satu sisi, manajemen ingin mempertahankan Stadion Brawijaya sebagai markas tim. Di sisi lain, pemenuhan standar infrastruktur menjadi kebutuhan yang harus ditangani secara terencana.
Ke depan, koordinasi antara Persik, Pemkot Kediri, dan Pemkab Kediri diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan stadion, menentukan prioritas pembenahan, serta mendukung perkembangan klub secara berkelanjutan.
Bagi Macan Putih, mempertahankan kandang di Kediri bukan hanya soal lokasi pertandingan. Hal tersebut juga berkaitan dengan identitas klub, dukungan suporter, serta peluang sepak bola untuk berkontribusi terhadap perkembangan olahraga dan ekonomi daerah. [nm/ian]






