Surabaya (beritajatim.com) – Polrestabes Surabaya gelar rapat koordinasi kamtibmas guna mempersiapkan pengamanan pada Hari Raya Natal dengan berbagai elemen pada, Senin (15/11/2021). Dalam rapat tersebut tampak beberapa stakeholder keamanan dari Pemkot Kota Surabaya dan beberapa Organisasi Masyarakat Islam.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Achmad Yusep Gunawan menyebut, dalam rapat itu dirinya sudah meminta pendapat dari beberapa stakeholder untuk melakukan pengamanan selama Natal.
“Kami telah meminta masukan dari semua pihak, rencananya kita akan menentukan pola terkait kesehatan dan keamanan pada saat kebaktian dan Natal,” kata Yusep, di Mapolrestabes Surabaya.

Yusep menjelaskan pihaknya bakal menerjunkan ribuan personel dan dibantu oleh beberapa elemen terkait untuk melakukan penjagaan selama malam kebaktian hingga perayaan Natal.
“Kami perkuatan sudah pasti, 2600 (personel), ditambah cadangan kurang lebih 1600 khusus Polri, ditambah TNI, BPB Linmas, Banser, Muhammadiyah, dan lainya,” jelasnya.
Ribuan personel itu, kata Yusep, diterjunkan untuk menjaga setiap gereja yang ada di Surabaya. Tugas mereka, guna mengantisipasi setiap kejadian yang tidak diinginkan.
“Gereja-gereja akan kita amankan dan kami pastikan kegiatan (kebaktian) itu terjaga. Membuat konsep pengamanan ring dan berlapis, lalu juga melakukan upaya pembatasan,” ucapnya.
Agar prosesi berjalan aman, pengurus gereja juga diimbau memanfaatkan fasilitas digital dalam pengamanan. Yakni dengan cara, mengundang para jamaah menggunakan barkode.
“Bila disepakati insyaallah menggunakan fasilitas digital yang ada, yaitu menggunakan undangan yang sudah tercatat dan melalui barcode,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”natal”]
“Artinya untuk memastikan bahwa yang diundang pihak gereja adalah betul yang hadir. Itu juga untuk mengantisipasi potensi-potensi yang tidak diinginkan,” tambah Yusep.
Yusep mengungkapkan, pengamanan selama malam kebaktian hingga perayaan Natal tersebut untuk memberi rasa nyaman. Mengingat Kota Surabaya sendiri pernah dihebohkan adanya teroris saat Misa berlangsung.
“Kota Surabaya sangat menyadari pernah mengalami situasi yang kurang nyaman saat proses kebaktian, seperti bom bunuh diri dan aksi teror. ini menjadi catatan penting bagi kita,” tutupnya. [ang/but]






