Persebaya Surabaya paling cakap merusak peluang sendiri dalam kompetisi Liga 1 2024-25. Empat kali berkesempatan memenangi pertandingan untuk merebut posisi kedua klasemen, yang berarti jalan menuju kompetisi Asia. Empat kali pula mereka gagal melakukannya.
Dan dari empat kesempatan itu, dua pertandingan di antaranya sudah dimenangi Persebaya hingga menit 90. Namun kecerobohan pada detik akhir membuat tiga angka melayang, dan peluang itu ambyar.
Tidak berpihaknya Dewi Fortuna alias kesialan tidak bisa jadi alasan, jika melihat pertandingan Persebaya melawan Persik di Stadion Brawijaya Kediri, Senin (5/5/2025).
Di hadapan 5.884 penonton, Bruno Moreira membawa Persebaya unggul lebih dulu pada menit 34, setelah mendapat operan dari Arief Catur Pamungkas yang menusuk dari sisi sayap kanan ke tengah.
Namun kecerobohan lini belakang Persebaya yang tidak mengawal Ramiro Fergonzi membuat Persik menyamakan kedudukan empat menit kemudian.
Cara Fergonzi mencetak gol ini sama persis dengan peluang pertamanya yang diperoleh pada menit 17. Pemain asal Argentina itu menyelinap masuk di antara dua pemain bertahan Persebaya setelah memperoleh bola umpan panjang dari lini tengah.
Kiper Andika Ramadhani maju meninggalkan gawangnya untuk mempersempit ruang tembak. Namun Fergonzi berhasil menembakkan bola, melambung melewati kepala Andika. Dia gagal pada menit 17. Namun tidak pada menit 38.
Persebaya kembali unggul pada menit 45 melalui gol yang dicetak Flávio Silva, mantan pemain Persik. Setelah memperoleh bola operan Francisco Rivera, Flavio meliuk-liuk di dalam kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke gawang Léo Navacchio.
Tiga menit babak kedua dimulai, Malik Risaldi memperbesar keunggulan menjadi 3-1 setelah memperoleh bola silang dari Francisco Rivera.
Ze Valente menipiskan skor melalui tendangan bebas langsung pada menit 53. Pemain asal Portugal ini seperti ingin menjadikan pertandingan itu etalase di hadapan mantan bosnya di Persebaya, Azrul Ananda.
Beberapa kali peluang bagi Persebaya untuk ‘kill the game’ melalui Flavio dan Malik Risaldi terbuang. Dan akhirnya, pada menit 90+6, Fergonzi menghukum Persebaya melalui momentum yang kurang lebih sama, dengan saat tim asal Surabaya itu menghadapi PSIS: kebobolan di menit akhir melalui skema bola silang.
Melelahkan melihat kecerobohan demi kecerobohan yang dibuat Persebaya sendiri. Longgarnya pertahanan dan tumpulnya lini depan menjadi kombinasi sempurna yang menempatkan Persebaya dalam situasi ganjil saat ini.
Berada di posisi ketiga pada pekan 31 dengan mengantungi 54 angka, jumlah 38 gol yang dicetak Persebaya sama tipisnya dengan Barito Putera yang saat ini berada di peringkat 16.
Kualitas lini depan Persebaya setara dengan kualitas lini gedor tim yang berada di zona degradasi. Itu kenyataannya.
Kegagalan demi kegagalan Persebaya memanfaatkan peluang untuk menang tidak bisa hanya ditumpukan pada lini belakang. Bagaimana pun, sepak bola adalah permainan yang hanya bisa dimenangi dengan mencetak gol.
Tidak ada yang peduli bagaimana proses gol tercipta. Counter attack, tikitaka, gegenpressing, dan semua filosofi sepak bola hanya omong kosong jika tak ada gol tercipta. Itulah kenapa kita merayakan setiap keberhasilan mencetak gol.
Tersisa tiga pertandingan lagi: menghadapi Semen Padang dan Bali United di Gelora Bung Tomo dan Borneo FC di Samarinda. Menyapu bersih semua pertandingan tidak akan menempatkan Persebaya di posisi kedua klasemen jika Dewa United juga memenangi tiga pertandingan tersisa.
Selisih gol yang terpaut jauh (24 berbanding 6) membuat Persebaya tak hanya harus memenangi semua pertandingan, tapi juga berdoa agar Dewa United terpeleset. Jika tidak, atribusi terhadap Persebaya sebagai tim yang paling cakap merusak peluang sendiri resmi disandang. [wir]






