Surabaya (beritajatim.com) – Persebaya Surabaya mendapatkan pelajaran pahit setelah dikalahkan tim dari kasta kedua liga sepak bola Indonesia, Championship, Kendal Tornado FC pada pertandingan babak penyisihan Grup G League Cup, hari Selasa (3/11) kemarin.
Kalah dengan skor tipis 3 – 2 penampilan pemain Persebaya Surabaya menjadi sorotan, khususnya pada transisi bertahan. Dalam situasi duel saling jual beli serangan, skuad Green Force justru lebih banyak kebobolan gol.
Kendal Tornado FC mencetak gol pembuka pada menit ke 58′ lewat eksploitasi terencana dari sisi kanan pertahanan Persebaya. Yuda Alkanza dan Rizky Dwi membuka ruang bagi Rifal Lastori untuk melepaskan umpan lambung terukur, yang kemudian mulus diselesaikan Akbar Firmansyah.
Tertinggal satu gol, Persebaya memberi respons untuk meningkatkan tekanan ke area pertahanan Laskar Badai Pantura. Menit 71′ dan 78′, Bajol Ijo berhasil membalikkan keadaan menjadi unggul 2 – 1; lewat gol yang diciptakan Ramadhan Sananta dan Toni Firmansyah.
Namun, lagi-lagi, Kendal Tornado FC menunjukan mentalitasnya untuk melipatgandakan kedudukan gol di penghujung laga.
Eksekusi umpan bola angkat dari Yuda Alkanza ke depan mulut gawang Ernando Ari ini berhasil diteruskan dan diselesaikan sang kapten Dimas Sukarno di menit 86′.
Kemudian melalui skema serangan balik kilat dua lawan dua dengan pemain Persebaya. Rifal Lastori kembali menyodorkan umpan matang ke depan mulut gawang, yang berhasil diselesaikan dengan dingin oleh Patrick Cruz saat menit-menit terakhir 89′.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares mengatakan bahwa kekalahan yang didapat saat menghadapi Kendal Tornado FC ini; salah satunya disebabkan kerana faktor transisi pemain yang masih kurang cepat.
“Saya ingat gol yang mereka cetak berasal dari bola yang diumpan silang ke tiang jauh, sementara pemain kami hanya fokus pada bola,” ungkap Bernardo Tavares, Pelatih asal Portugal tersebut.
Ditambah, kata dia, para pemain Bajol Ijo belum melakukan penjagaan ketat terhadap lawan dan masih lengah saat menghadapi situasi bertahan.
“Kami membiarkan terlalu banyak situasi terjadi saat transisi bertahan,” tambahnya.
Meskipun demikian, Juru taktik asal Portugal itu menekankan bahwa permainan buruk dari anak asuhnya ketika di lapangan adalah tanggungjawabnya sebagai seorang pelatih.
Ia bilang: “Kesalahan apa pun yang dilakukan pemain, tanggung jawabnya selalu ada pada pelatih,”. (rma/ted)






