Para pemain dan ofisial di bangku cadangan Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya (Persas) langsung meninju udara dan berteriak, ketika Sirilus Siko mencetak gol ke gawang Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia Djember.
“Salam satu nyali!”
“Wani!”
Teriakan khas suporter Surabaya itu diteriakkan berkali-kali bersama-sama. Para pemain Persas yang bertanding di lapangan Stadion Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (19/3/2023), meresponsnya dengan mengepalkan tangan ke udara.
Namun kegembiraan tak bertahan lama. Pertandingan final Piala Bupati Jember hari itu berakhir dengan skor 4-1 untuk kemenangan Persaid. Diperkuat empat pemain tim nasional sepak bola amputasi yang pernah bermain di Piala Dunia Turki 2022, Persaid terlampau tangguh.
Usai pertandingan, Kapten Persas Khusnul Yakin terduduk dan meneteskan air mata. “Kelemahan kami ada di pertahanan. Setelah saya cedera dan harus ditandu keluar, formasi kacau. Tapi pertandingan pagi ini sangat seru dan sengit. Meski kami kalah 1-4, tapi pemain-pemain muda kami tetap berjuang,” katanya.
Khusnul dan kawan-kawan memang layak keluar dari lapangan dengan kepala tegak. Didirikan pada 25 Februari 2022, kisah Persas adalah kisah epik komunitas penyandang disabilitas memperjuangkan eksistensi yang diawali oleh Khusnul Yakin dan Syaiful Arifin. Khusnul menjadi kapten, sementara Syaiful bekerja di Jakarta
Mereka bertemu dengan Endro Suseno, sesepuh komunitas difabel di Surabaya. “Pak, bagaimana ini? Surabaya kan kota besar, kita dirikan klub sepak bola amputasi,” kata Ketua Umum Persas Endro Suseno, mengenang percakapan mereka.
Sesepuh lainnya, Sapari, mendukung keinginan itu. “‘Tidak apa-apa. Ayo, yang penting sosialisasi agar mereka yang lebih muda mau ikut’. Meski usia 50 tahun, kami ikut juga karena tidak ada batasan usia dalam sepak bola amputasi,” kata Endro.
Persas mulai berlatih dengan pemain seadanya. “Awalnya kami hanya terdiri atas empat sampai enam orang. Saya sendiri karena menyandang disabilitas tangan, bermain sebagai kiper,” kata Endro.
Langkah pertama yang dilakukan pengurus Persas adalah mencari pemain, terutama usia muda, sebanyak-banyaknya. Klub sepak bola tanpa pemain tentu tak layak disebut sebagai klub. “Akhirnya saya memilih berfokus jadi pengurus saja. Posisi kiper diganti adik-adik yang lebih muda. Sekarang total anggota tim kami 19 orang,” kata Endro.
Di tengah minimnya turnamen sepak bola amputasi, Persas sempat menembus final Piala Menpora 2022 dan menduduki posisi runner-up, setelah dikalahkan Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Jakarta (Persaj) 1-7 di Lapangan Pamentas Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (27/11/2022) sore. “Hampir sembilan puluh persen pemain Jakarta adalah pemain tim nasional,” kata Endro.
Keberhasilan menembus final Piala Menpora memacu semangat para pemain. “Sejak kami pulang dari Piala Menpora, kami sudah bertekad tidak kendor berlatih. Kami berlatih seminggu sekali dan menjelang pelaksanaan Piala Bupati Jember pada Maret 2023, jadwal latihan dipadatkan jadi seminggu dua kali dengan dilatih Pak Komari dan Pak Yanto,” kata Endro.
Komari seorang guru olahraga. “Monggo, kalau bisa melatih sepak bola amputasi. Tapi tidak ada bayarannya, ini urusan sosial,” kata Endro menceritakan awal perkenalan dengan Komari.
Persas memang lebih banyak mengandalkan patungan anggota untuk bertahan. Namun pengurus juga bergerilya mencari donatur, terutama untuk memenuhi kebutuhan peralatan menjelang pelaksanaan turnamen yang diikuti Persas.
Menurut Endro, tim sepak bola amputasi mulai tumbuh hampir di semua daerah di Jawa Timur. Rata-rata persoalan yang dihadapi sama: pendanaan. “Kalau Surabaya alhamdulillah, karena kota besar, banyak stakeholder,” katanya.
Belakangan sejumlah pihak mengulurkan tangan, termasuk Universitas Muhammadiyah Surabaya. Endro sebenarnya ingin logo semua pemberi bantuan dipasang di jersey Persas. Namun rata-rata menampik.
“Kami sebenarnya ingin ada honor untuk pemain. Tapi kebanyakan donasi berupa barang. Kalau kami ajukan permohonan bantuan berupa uang, stakeholder enggan dan memilih bantuan berupa barang. Padahal kalau ada dana lebih, kami berharap bisa sewa kantor sekretariat. Saat ini sekretariat masih di rumah saya,” kata Endro.
Kendati pelan, Endro yakin Persas akan tumbuh menguat. “Masih awal, kami sosialisasi dan kumpul-kumpul dengan teman-teman disabilitas dari kota lain sambil silaturahmi. Itu yang utama, karena usia kami masih setahun,” katanya.
Sekretaris Persas Abdus Syakur mengatakan, saat ini para pemain Persas masih terus berlatih. “Kemarin kami mengirim empat pemain U23 untuk ikut seleksi tim nasional. Indonesia dapat undangan bertanding di Malaysia, turnamen trofeo,” katanya.
Syakur berharap empat pemain itu bisa lolos ke timnas. Namun hingga saat ini belum ada pengumuman. “Yang ikut seleksi 24 pemain seluruh Indonesia. Jember memberangkatkan dua pemain, Malang dua pemain, Jakarta mengirimkan empat pemain,” katanya, Jumat (2/6/2023).
Rencananya, ada turnamen Piala Menpora pada November 2023. “Kami belum tentu ikut, karena terkendala anggaran. Tahun kemarin saja kami mengeluarkan anggaran Rp 30 juta, itu pun carinya susah payah. Kami ingin semua turnamen ikut, tapi kami harus memanajemen. Kalau ada turnamen di Malang atau kota lain di Jatim, kami lebih memprioritaskan,” kata Syakur.
Saat ini, ada salah anggota komite eksekutif PSSI Surabaya yang mau membantu. “Kami dipersilakan berlatih di lapangan klubnya. Saya mau sowan dan gandeng untuk mengadakan turnamen di Surabaya,” kata Syakur.
Syakur ingin kelak Surabaya menjadi tuan rumah turnamen sepak bola amputasi tingkat nasional. “Setidaknya trofeo. Kami juga ingin belajar dulu menyelenggarakan turnamen. Biasanya dalam sepak bola amputasi, tuan rumah menyediakan akomodasi dan konsumsi untuk tim peserta,” katanya.
Harapan ada pada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. “Kami ingin bertemu Pak Eri Cahyadi. Kami kan juga anak beliau. Setiap kali kami kirim surat, disposisi turun ke Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Kami ingin menyampaikan banyak hal soal sepak bola amputasi,” kata Syakur. [wir]






