Tidak hanya ada dua singa sepak bola di Malang, Jawa Timur. Tak hanya ada Arema Indonesia dan Arema Football Club. Minggu, 20 Maret 2022, lahir singa ketiga di Bululawang. Sebuah klub sepak bola yang diperkuat kaum difabel. Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Malang. Persama.
Awalnya adalah Difable Motorcycle Indonesia, sebuah klub sepeda motor khusus para penyandang disabilitas. Sueb, seorang difabel pegiat DMI, mendengar kabar tentang tim nasional sepak bola amputasi Indonesia yang akan bertanding dalam Piala Dunia di Turki, pertengahan 2022.
Pengurus DMI Jawa Timur meminta para anggota di masing-masing kota mendirikan klub sepak bola amputasi. “Alhamdulillah, kami membentuk dan bisa merekrut delapan pemain. Saya ditunjuk jadi ketua,” kata Sueb.
Logo mereka sebagaimana Arema adalah kepala singa. ‘Kami sempat ke Kandang Singa (nama markas Arema FC) bertemu Pak Sudarmaji (Media Official Arema), minta izin agar bisa menggunakan kepala singa untuk jadi logo. Ternyata diperbolehkan dan bahkan dibantu uang pembinaan Rp 10 juta saat launching tim Arema,” kata Sueb.
Sueb pernah bermain sepak bola saat belum diamputasi. Namun pengalaman itu tak cukup luas untuk mengurus sebuah tim sepak bola. Selama ini ia hanya pekerja serabutan, mulai dari bertani dan membuat meubel. Begitu juga pemain-pemain lainnya, sebagian mencari nafkah dengan berjualan koran, menjadi petani, dan mekanik bengkel. “Ada yang sama sekali tidak suka sepak bola, begitu ada sepak bola amputasi, semangatnya luar biasa,” katanya.
Persama akhirnya dibentuk tanpa bekal peralatan dan pengetahuan teknis apapun soal sepak bola amputasi. “Bola tidak punya, tongkat tidak punya. Sepatu tidak punya. Kami hanya latihan lari-lari seadanya,” kata Sueb yang tinggal di Desa Wajak, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang ini.
Sueb adalah pemain tertua dengan usia 50 tahun. Pemain termuda berusia 21 tahun. Mereka berlatih di lapangan Kendal Payak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Lokasi lapangan ini paling memungkinkan dicapai para pemain yang tersebar di seluruh Malang Raya. “Kami terkendala transportasi. Kalau belum ada anggaran, kasihan kalau pemain datang jauh-jauh,” kata Sueb.
Dua minggu setelah didirikan, Persama mendapat undangan turnamen persahabatan sepak bola amputasi di Surabaya. Sueb memberangkatkan satu orang penjaga gawang dan lima orang pemain outfield untuk bertanding. Jumlah ini jelas jauh dari memadai. Setiap tim yang bertanding dalam sepak bola amputasi setidaknya harus diperkuat satu penjaga gawang dan enam pemain outfield di lapangan.
Namun Sueb dan kawan-kawan nekat. “Kami berangkat dengan dana patungan ke Surabaya naik kereta api. Padahal menendang bola saja belum pernah,” katanya.
Dalam turnamen itu, Persama menghadapi dua tim kuat yang lebih dulu berdiri yakni Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya (Persas) dan Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia Djember (Persaid). “Kami hadapi saja. Lawan Surabaya skor 0-0 dan adu penalti. Lawan Jember 1-1, lalu adu penalti,” kata Sueb.
Problem pemain tidak hanya dihadapi Malang. “Waktu itu Blitar dan Pasuruan hadir juga, tapi kekurangan pemain. Akhirnya yang kekurangan pemain tidak bisa bertanding. Waktu itu yang bertanding Persam Madura melawan Persas Surabaya, dan Malang bertanding melawan Jember,” kata Sueb.
Tidak berhenti di sana, empat orang pemain Persama kemudian dipanggil untuk memperkuat Jatim Selection dalam sebuah turnamen di Jakarta. Klub itu juga berpartisipasi dalam Piala Menpora di Jakarta, medio November 2022 dan menduduki posisi keempat. “Saat Piala Menpora kami bertanding tanpa pelatih,” kata Sueb. Mereka baru dilatih Bambang Pansud saat mengikuti Piala Bupati Jember 2023.
Tak mudah membangun sebuah klub sepak bola amputasi di tengah keterbatasan dana. Menurut Sueb, Pemerintah Kabupaten dan Kota Malang belum sepenuhnya mendukung. Namun mulai ada perhatian secara personal.
Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto dan anggota DPRD Jawa Timur ikut membiayai keberangkatan Persama ke Jakarta untuk mengikuti Piala Menpora tahun lalu. Anggota DPRD Kota Malang juga membantu ongkos keberangkatan Sueb dan kawan-kawan ke Jember untuk berkompetisi dalam Piala Bupati, medio Maret lalu. Persama membawa 13 orang pemain dan 7 ofisial ke Jember.
Sueb meminta pengurus pusat Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) agar gencar menyosialisasikan keberadaan cabor sepak bola amputasi. “Kalau pusat tidak menyosialisasikan ke bawah, kami mengalami kesulitan. Eksistensi kami belum banyak diakui,” katanya.
Selama ini para anggota Persama dan PSAI Malang melakukan patungan untuk membiayai kegiatan dan latihan. “Tapi tidak mencukupi. Kami masih harus berjuang,” kata Sueb.
Sueb berharap pemerintah kota dan kabupaten mendukung Persama dari sisi anggaran. “Selama ini modal kami cuma semangat dan kemampuan. Harapan kami sepak bola amputasi diperlakukan sebagaimana sepak bola umumnya. Pemerintah harus mendukung kami. Tanpa dukungan pemerintah, kami tidak ada apa-apanya,” katanya.
Apalagi, lanjut Sueb, para penyandang disabilitas di Malang antusias menyambut kehadiran Persama. “Seandainya pemerintah sudah mendukung kami, saya ingin bertanding tidak di lapangan tertutup tapi di kawasan stadion yang dekat jalan protokol, seperti di kompleks Stadion Gajayana, untuk memotivasi teman-teman kami,” katanya.
Jika memiliki anggaran cukup, Persama akan melakukan semacam safari ke seluruh Malang untuk merekrut pemain baru. Sueb ingin kelak ada pemain tim nasional dari Malang. “Kalau ada yang terpilih, alhamdulillah, berarti kami ada kemajuan,” katanya. [wir]






