Sumenep (beritajatim.com) – Angka stunting di Kabupaten Sumenep tercatat sebesar 29 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding angka stunting Jawa Timur yakni 23 persen.
Kepala BKKBN RI dr.Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan, kasus stunting di Sumenep memang bukan yang terbanyak di Jawa Timur. Angka stunting tertinggi di Jawa Timur sebesar 38 persen.
“Tetapi, stunting di Sumenep ini tetap harus menjadi perhatian serius. Salah satunya dengan menekan angka pernikahan dini, kemudian mengatur jarak kelahiran anak,” katanya.
Hasto Wardoyo melakukan kunjungan kerja ke Sumenep pada Selasa (13/09/2022). Kepala BKKBN RI ini melakukan sosialisasi terkait upaya pencegahan stunting melalui pelayanan KB. Kegiatan tersebut digelar di Kecamatan Kota Sumenep.
“Saya sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan Sumenep untuk mengatasi stunting. Ada upaya gotong royong TNI, Polri, dan Pemkab seperti yang diterapkan saat penanganan Covid-19. Ini benar-benar luar biasa,” ujar Hasto sambil mengacungkan jempol.
[berita-terkait number=”4″ tag=”stunting”]
Sementara Bupati Sumenep, Ach. Fauzi memaparkan, angka stunting 29 persen itu merupakan peninggalan sekian tahun lalu. Karena memang penanganan stunting sekarang ini, efeknya terasa di masa berikutnya.
Saat ini untuk penanganan stunting, pihaknya memang melibatkan berbagai elemen seperti TNI dan Polri seperti Satgas Covid-19.
“Kami mengawali dari gerakan mengeliminasi TBC. Karena TBC ini berkaitan erat dengan stunting. Kalau angka TBC bisa ditekan, maka angka stunting juga akan turun,” ujarnya. [tem/but]






