Subang (beritajatim.com) – Desa Mayangan, Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang, bukan hanya dikenal dengan destinasi wisata Pantai Pondok Bali yang menawan di pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura).
Setiap akhir pekan, Pantai Pondok Bali ramai dikunjungi wisatawan yang memancing atau menikmati hidangan laut di restoran-restoran mungil yang menjadi sumber ekonomi warga sekitar. Namun, di balik pesona wisata tersebut, ada kisah panjang perjuangan warga Mayangan melawan abrasi yang mengancam desa mereka selama puluhan tahun.
Menurut Kepala Desa Mayangan, Darto, abrasi telah merenggut lebih dari setengah wilayah desa mereka. “Selama lebih dari dua dekade, desa kami mengalami abrasi dan banjir rob yang terus menghantam. Ratusan hektar lahan tambak dan rumah warga tenggelam,” ujar Darto.
Bahkan, Pulau Burung, yang dulunya menyatu dengan Pantai Pondok Bali, kini terpisah sejauh 1,5 kilometer akibat abrasi yang berkepanjangan. Kondisi ini mengubah wajah Mayangan dari desa tambak yang kaya hasil laut menjadi desa yang nyaris tenggelam.
Darto mengungkapkan bahwa abrasi tidak hanya merusak lahan pertanian dan tambak, tetapi juga merusak kehidupan sosial dan ekonomi warga. “Kami kehilangan sumber mata pencaharian utama, lahan tambak, dan beberapa bangunan penting yang kini sudah tenggelam,” tambahnya.
Dalam upaya menghalau abrasi, warga Desa Mayangan mendapat dukungan dari EIGER Adventure, brand asal Bandung yang bergerak di bidang perlengkapan luar ruang. Beberapa bulan lalu, EIGER bekerja sama dengan Yayasan Wanadri dan warga setempat menanam 10.000 bibit mangrove di sepanjang pesisir Mayangan.
Gerakan ini bertujuan untuk mengurangi dampak abrasi sekaligus memperkuat ekosistem pesisir. Darto menjelaskan bahwa inisiatif penanaman mangrove ini melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Kami membentuk kelompok Siaga Pesisir Utara (Siput), yang terdiri dari pemuda desa yang bertugas memonitor pertumbuhan dan perawatan mangrove. Selain itu, kami juga mengedukasi warga untuk membibit dan menanam mangrove secara mandiri,” jelasnya.
Gerakan ini diharapkan dapat menyelamatkan desa dari ancaman abrasi yang semakin parah.
Pada Sabtu (12/10/2024), EIGER kembali mengunjungi Desa Mayangan dengan agenda berbeda. Kali ini, EIGER mengajak ratusan warga untuk hadir dalam acara nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Matra Pantura.
Film berdurasi 30 menit ini khusus dibuat oleh EIGER untuk mendokumentasikan perjuangan warga Mayangan dalam menjaga desa mereka dari ancaman abrasi dengan menanam dan merawat hutan mangrove.
Mohammad Zakiy Zulkarnaen, Brand Communication Strategist EIGER, menjelaskan bahwa film ini adalah bentuk apresiasi kepada warga Mayangan.
“Kami membuat Matra Pantura sebagai penghargaan atas upaya keras warga Mayangan dalam melestarikan mangrove. Film ini akan dibawa ke beberapa festival film dan nonton bareng di berbagai kota untuk membuka diskusi mengenai kompleksitas masalah di Pesisir Pantura serta mencari solusi,” jelas Zakiy.
Lebih dari seratus warga hadir dalam acara nobar ini. Mereka menikmati film sambil menukar kupon dengan berbagai jajanan yang disediakan gratis oleh EIGER. Setelah film selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama warga, dihadiri oleh Kepala Desa Mayangan, Sekretaris Desa, siswa sekolah, komunitas lokal, serta sejumlah aparat desa dan kecamatan.
Mansur, salah satu perwakilan Yayasan Wanadri di Mayangan, menyebut film dokumenter ini sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian mangrove.
“Film ini mampu menunjukkan bagaimana warga Mayangan selama bertahun-tahun berjuang untuk mempertahankan desa mereka. Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat pantai,” ujar Mansur.
Selain itu, komentar positif juga datang dari Abah Encai, seorang tokoh masyarakat yang telah tinggal di Mayangan selama lebih dari 60 tahun.
“Film Matra Pantura mengajak kita untuk tetap tabah, tangguh, dan terampil dalam menghadapi bencana abrasi. Terima kasih kepada EIGER atas usaha mereka mendokumentasikan perjuangan kami. Film ini akan menjadi salah satu warisan bagi generasi muda Mayangan,” tutur Abah Encai. [beq]






