Surabaya (beritajatim.com) – Pelantikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) beberapa waktu lalu menjadi saksi Agus Tinus Amin Tohari mendapatkan gelar guru profesional.
Perjuangan Agus untuk memperoleh gelar tersebut tidaklah mudah. Ia harus menjalani proses cuci darah dua kali dalam seminggu agar tetap bisa mengikuti PPG Sekolah Dasar di Unusa.
Meskipun harus berjuang dengan kondisi kesehatannya, semangatnya tidak pernah surut. Ia melihat pendidikan sebagai panggilan jiwa dan tekadnya untuk berbagi ilmu dengan generasi muda.
“Sejak kecil saya sudah termotivasi menjadi seorang guru. Ketika lolos tes studi PPG di Unusa, saya langsung semangat melanjutkan mimpi itu. Saya ingin mengembangkan potensi dalam diri dan untuk anak-anak didik saya juga,” ungkap Agus, ditulis Kamis (21/12/2023).
Ia mengungkapkan, istrinya menjadi salah satu motivasi kuatnya. Diakuinya, bahwa dukungan dari istri membuat perjalanan pendidikannya menjadi lebih mudah. “Dukungan dari keluarga, terutama istri, benar-benar memberi kekuatan tambahan untuk terus berjuang dan mengejar impian menjadi guru. Istri saya selalu memberi semangat dan menemani ketika cuci darah,” katanya.
Agus sudah mengajar sejak tahun 2006 silam. Ia memulai karirnya sebagai guru di SDN Watugolong 02, Krian, Sidoarjo. Selama mengajar, Agus selalu berusaha datang ke sekolah meski hanya setengah hari, dan harus menjalani cuci darah setelahnya.
“Saya selalu berusaha tidak meninggalkan tanggung jawab saya sebagai guru, walaupun harus membagi waktu ketika ada jadwal cuci darah. Begitu pun jika harus menjalani studi PPG ini, saya harus pintar-pintar dalam mengkondisikan diri saya, utamanya kesehatan,” ujarnya.
Ia juga menceritakan, perjuangan paling berkesan adalah ketika ia harus menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL). “Ketika PPL, saya sempat mengalami kondisi drop, tapi akhirnya berlalu dan itu juga berkat dukungan penuh dari dosen-dosen pengajar di Unusa,” tuturnya.
Baginya, dukungan dari dosen-dosen di Unusa menjadi pegangan kuat hingga akhirnya dia bisa berhasil dilantik. Ketika ada jadwal cuci darah yang bertabrakan dengan jadwal presentasi, Agus selalu berkoordinasi dengan dosen pengampu untuk meminta giliran pertama.
Pria kelahiran 12 Agustus 1979 itu berpesan bagi teman-temannya, bahwa meskipun sudah menuntaskan PPG, tetap harus berjuang untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Tentunya, ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan kepada siapa pun.
“Bagi siapa pun itu jangan patah semangat jika mengalami kesulitan, apalagi sebagai seorang guru, sudah semestinya kita menerapkan pengetahuan yang kita miliki dengan semaksimal mungkin bagi masyarakat luas,” pesannya. [ipl/kun]






