Lamongan (beritajatim.com) – Selain dikenal memiliki beragam kuliner, Kabupaten Lamongan juga menyimpan sejumlah bangunan yang bernilai sejarah.
Bangunan-bangunan itu adalah salah satu bukti dari eksistensi dan kejayaannya pada masa lampau.
Seperti diketahui, bangunan bersejarah merupakan arsip arsitektur tua yang memiliki nilai estetis tinggi. Tak terkecuali Monumen Kuda Putih Mayangkara yang memiliki arti penting bagi sejarah Kabupaten Lamongan.
Monumen tersebut adalah saksi bisu perjuangan rakyat Lamongan dalam mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer yang dilancarkan oleh penjajah Hindia Belanda kala itu.
Monumen ini terletak di tepi jalan poros Lamongan-Mojokerto, tepatnya di sebelah Kantor Polsek Mantup saat ini.
“Monumen Kuda Putih Mayangkara ini dibangun sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan dan pejuang yang rela bertaruh nyawa demi melawan penjajah,” ujar Camat Mantup, Suwanto Sastrodiharjo, Sabtu (3/9/2022).
Di balik monumen yang masih berdiri kokoh ini, Camat Suwanto menceritakan, pasukan Batalyon 503 Mayangkara yang dipimpin oleh Mayor Djarot Soebyantoro dengan gagah berani melawan penjajah di kawasan setempat.
Pasukan itu, tambah Suwanto, bermarkas di Mantup sejak 5 Mei 1946 silam. Sedangkan nama Batalyon 503 Mayangkara sendiri diambil dari nama kuda putih yang diberikan Kepala Desa Mantup kepada Mayor Djarot Soebyantoro, saat memindah markasnya ke Mantup.
Pada sekitar tahun 1948, Belanda memasuki wilayah Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan melalui Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Mengetahui hal ini, Mayor Djarot bersama pasukan berupaya melakukan perlawanan.
Perlawanan itu dilakukan oleh Batalyon 503 Mayangkara secara gerilya. Mereka tak hanya terdiri dari para pejuang laki-laki, namun juga para pejuang perempuan yang ditugaskan sebagai penghubung antar pos komando gerilya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, Camat Suwanto menuturkan, setidaknya Batalyon 503 ini terdiri dari 400 anggota. Tanpa rasa takut, mereka menyusup ke Kota Surabaya yang kala itu menjadi basis kekuatan Belanda.
Penyusupan ini dimaksudkan agar sewaktu-waktu terjadi gencatan senjata, ada anggota TNI yang bisa menguasai wilayah tersebut dengan atribut lengkap dan bersenjata. Dengan begitu, persyaratan kekuasaan daerah militer pun terpenuhi.
“Batalyon Mayangkara dikenang karena keberaniannya melawan tentara Belanda. Kuda putih juga jadi lambang kesatuan Batalyon 503. Lambang Lencana Kuda Putih Mayangkara ini secara resmi digunakan anggota Batalyon sejak 7 Agustus 1949,” terangnya.
Lebih lanjut mengenai Monumen Kuda Putih Mayangkara, Suwanto mengatakan kalau pembangunan monumen ini dilakukan pada tahun 1971. Hal itu berdasarkan keterangan yang tertulis di sisi utara monumen tersebut.
“Kenang-kenangan untuk pedjuang kemerdekaan tahun 1945. Andjangsana ke EK. Basis Gerilja-JONIF-503 tanggal 9-12-1971. Dalam rangka HUT ke XXVI,” isi keterangan pada sisi utara monumen itu.
Sedangkan di sisi selatan monumen, terdapat tulisan amanat Panglima Besar Soedirman, yang berisi : Pertjaja pada kekuatan sendiri, teruskan perdjuangan kamu. Korban tjukup banjak. Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian. Tentara kita djangan sekali-kali mengenal sifat menjerah, kepada siapapun djuga. JG AKA mendjadjah dan menindas kita kembali. Pegang teguh disiplin tentara lahir dan bathin. Dari teman seperdjuangan, Letda AN S Siregar, Letda AN Soebarkah, Letda AN Soedarmo, Serma AN Irawan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
Tak cukup itu, Suwanto menyebutkan, pada monumen tersebut juga terukir daftar kesatuan yang pernah bertugas di wilayah Mantup, di antaranya Pasukan Resimen 36 Ronggo Lawe, Kesatuan III Resimen 35 Djoko Tole, Pasukan Trip Blitar, Pasukan Jon Genie Suwido, Pasukan M.B.T Jon A/Tjikampek, Pasukan Kompi Matosin, serta Laskar Hizbullah.
“Di Monumen Kuda Putih ini juga ada beberapa tulisan mengenai sejarah perjuangan Mayor Djarot Soebyantoro. Monumen ini dibangun di halaman gedung yang juga diberi nama Gedung Mayangkara,” tambah Suwanto.
Diungkapkan Camat Suwanto, guna mengenang jasa dan kegigihan pasukan Batalyon 305 Mayangkara dalam melawan penjajah, maka pihaknya kemarin telah menggelar drama kolosal yang mengangkat kisah mereka.
“Untuk mengingat kembali perjuangan pasukan Batalyon 305 Mayangkara melawan penjajah di bumi Mantup, kemarin kami mempersembahkan drama kolosal dengan judul Kuda Mayangkara,” tandasnya.[riq/ted]






