Ponorogo (beritajatim.com) — Perjalanan panjang dunia jurnalistik akhirnya bermuara pada panggilan spiritual bagi Muhammad Yani. Wartawan senior asal Ponorogo yang kini menjabat sebagai CEO Ponorogo Pos itu, dijadwalkan menunaikan ibadah haji pada tahun ini. Momentum ini menjadi penanda bahwa kerja keras yang dijalani selama puluhan tahun berbuah pada kesempatan menuju Tanah Suci.
Selama 26 tahun berkecimpung di dunia pers, Yani tidak hanya mengejar berita, tetapi juga membangun fondasi hidup yang disiplin. Dia memulai karier dari bawah, berpindah di sejumlah media di bawah naungan Jawa Pos Group seperti Harian Karya Darma, Harian Duta Masyarakat, hingga Radar Madiun. Hingga pada medio tahun 2000-an, dirinya memantapkan diri untuk mendirikan media cetak sendiri, yakni Ponorogo Pos. Dari perjalanan itulah, Dia menemukan bahwa profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang pembuktian diri.
“Kita menggali kasus, di situlah tantangan datang. Kita berinvestigasi, di situlah adrenalin kita muncul. Profesi wartawan adalah saluran idealisme kita untuk pembaca setia,” ungkap pria yang juga pernah sekantor dengan Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko saat di Karya Darma dulu.
Di balik kariernya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak ringan. Pada masa awal menjadi wartawan, Yani harus meliput berita dengan sepeda ontel Federal, menyusuri berbagai lokasi dengan segala keterbatasan. Bahkan ketika berhasil membeli sepeda motor dari hasil kredit sendiri, cobaan datang saat kendaraan tersebut hilang dicuri ketika dirinya tengah mengirim berita lewat salah satu kantor telekomunikasi di Bumi Reog.
“Setelah 7 bulan dipakai, motor hilang. Akhirnya ya kembali meliput pakai sepeda ontel lagi,” kenangnya sembari tersenyum.
Kondisi ekonomi di masa itu juga jauh dari kata mapan. Dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu, Yani dituntut kreatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dia pun tidak hanya mengandalkan gaji, tetapi juga aktif mencari iklan usaha sebagai tambahan pemasukan. Kebiasaan menyisihkan pendapatan, sekecil apapun, menjadi prinsip yang terus dipegang hingga kini.
Dari kedisiplinan itulah, Yani bersama sang istri akhirnya mendaftarkan diri untuk ibadah haji pada 2012. Keputusan tersebut diambil dengan perhitungan matang, bukan sekadar keinginan sesaat. Setelah melalui masa tunggu selama 14 tahun, keduanya dijadwalkan berangkat pada 26 April 2026 melalui Kloter 19 Ponorogo.
Menurut Yani, keberhasilan ini tidak lepas dari peran besar sang istri, Ambar Amborowati. Dukungan dan doa yang terus mengalir menjadi kekuatan utama dalam menjaga konsistensi, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan rumah tangga.
“Di balik keberhasilan suami, tentu ada istri yang tangguh. Support dan doa istri pula yang membuat Ponorogo Pos tetap eksis hingga edisi ke-1.046 sekarang,” tambahnya.
Meski kini telah berada di posisi pimpinan media dan memiliki usaha bengkel sejak tahun 2000, Yani tetap menjaga kesederhanaan. Dia tidak ingin pencapaian yang diraih membuatnya berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, dirinya justru memperluas peran sosial sebagai bentuk pengabdian.
Saat ini, Yani aktif di berbagai organisasi dan lingkungan masyarakat. Ia dipercaya menjadi Ketua RT 01 RW 03 Kelurahan Mangunsuman, Ketua Koperasi Desa Merah Putih, Wakil Ketua Tanfidziyah NU Mangunsuman, hingga Tenaga Ahli di DPRD Ponorogo. Peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdian sosial berjalan beriringan dengan perjalanan spiritualnya.
Menjelang keberangkatan haji, Yani membawa harapan sederhana namun bermakna. Dia ingin sepulang dari Tanah Suci dapat terus memberi manfaat bagi sesama dan menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab.
“Harapan saya setelah pulang haji nanti, bagaimana hidup ini bisa terus berguna bagi sesama. Amanah apapun harus dijalankan dengan siap,” pungkasnya. [end/aje]






