Yogjakarta (beritajatim.com) – Situasi darurat sampah di Yogya masih terus berlanjut, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan fokus pada tiga kawasan utama, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, dan Yogyakarta.
Situasi darurat sampah di Jogja telah berlangsung selama lebih dari satu bulan setelah diumumkannya penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Piyungan di Bantul. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat pembuangan akhir sampah di tiga kawasan tersebut, yang notabene merupakan daerah dengan populasi padat di DIY.
Banyak pihak akhirnya berusaha mencari solusi untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah yang benar. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut berkontribusi dalam upaya ini.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, mengungkapkan bahwa fakultas tersebut siap untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah di 29 pasar di DIY. Langkah ini diambil menyusul penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang terjadi baru-baru ini.
Setiap pasar di DIY, menurut Prof. Budi, menghasilkan sekitar 9 ton sampah yang saat ini belum dikelola dengan baik. “Keselarasan upaya dari hulu ke hilir diperlukan. Di hulu, penting untuk terus melakukan edukasi dan praktek pemilihan serta pemilahan sampah oleh masyarakat agar menjadi budaya. Di sisi hilir, fakultas dan perguruan tinggi harus terus mengembangkan teknologi yang tepat guna, terutama dalam pengolahan sampah organik dan residu,” jelasnya.
Budi menambahkan bahwa masalah sampah bisa diatasi jika masyarakat di tingkat rumah tangga disiplin dalam memilah sampah. Pemilahan tersebut harus didasarkan pada jenisnya, seperti organik dan anorganik.
Sebagai komitmen dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah di Yogyakarta, Fakultas Biologi UGM menyatakan kesiapannya untuk menampung setidaknya 3 ton sampah setiap harinya dari pasar-pasar tersebut.
Sampah yang terkumpul akan dikelola dengan teknologi pengelolaan sampah yang dikembangkan oleh Fakultas Biologi. Beberapa teknologi yang diterapkan di antaranya adalah vermicomposting dan Black Soldier Fly, Eco Enzim, Biofertilizer, Eco Lindi, dan lainnya.
“Proses degradasi sampah bisa berlangsung dalam waktu setidaknya satu minggu. Komitmen Fakultas Biologi dalam pengelolaan sampah ini yang difokuskan pada masyarakat dan komunitas DIY, menunjukkan peran kami sebagai kampus yang peduli lingkungan dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs),” tambahnya.
Penanggung Jawab Operasional Pasar Rakyat Dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Susilo, menyebutkan bahwa sekitar 29 pasar terlibat dan berencana untuk bekerja sama dengan Fakultas Biologi dalam mengelola sampah.
Sampah yang terkumpul di setiap pasar biasanya berasal tidak hanya dari para pedagang, melainkan juga dari masyarakat sekitar. Jumlah sampah terbesar tercatat di Pasar Giwangan dan Pasar Beringharjo. “Upaya yang dapat dilakukan oleh pengelola sejak penutupan TPA adalah membatasi jumlah sampah yang dibuang oleh masyarakat di pasar,” jelasnya. (aje/kun)
BACA JUGA: Membaca Kemunculan Ular Melingkar di Keraton Jogjakarta






