Peristiwa

Wisata Religi Makam Sunan Drajat Lamongan Akan Direvitalisasi, Begini Detailnya

Tim Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur saat memberikan pemaparan tentang perencanaan revitalisasi kawasan Makam Sunan Drajat kepada Bupati YES, di Ruang Kerja Bupati.

Lamongan (beritajatim.com) – Pariwisata diyakini sebagai salah satu sektor strategis yang dapat membantu meningkatkan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Salah satu wilayah yang memiliki potensi pariwisata yang cukup besar adalah Kabupaten Lamongan, terdapat sejumlah destinasi wisata yang layak disambangi misalnya wisata religi Makam Sunan Drajat yang berlokasi di Desa Drajat Kecamatan Paciran.

Rencananya, kawasan Makam Sunan Drajat tersebut akan segera direvitalisasi lantaran sebagian bangunan di kawasan itu telah mengalami kerusakan. Dengan adanya revitalisasi, diharapkan kedepannya dapat menjadi magnet bagi pengunjung yang lebih besar lagi. Serta dengan pembangunan sarana prasarana yang memadai bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung serta memudahkan aksesnya.

 

Pada kesempatan tersebut, Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur, Direktorat Penataan Bangunan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan pemaparan tentang perencanaan revitalisasi kawasan Makam Sunan Drajat kepada Bupati Lamongan Yuhronur Efendi (YES) serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, di Ruang Kerja Bupati, pada Rabu sore (7/7/2021).

Dalam pemaparannya, diketahui lingkup pekerjaan revitalisasi di Kawasan Makam Sunan Drajat ini meliputi pekerjaan gapura agung, pagar dan kanopi, serta lantai pedestrian. “Prioritas utama akan mengganti semua kanopi beserta lantainya, mulai pintu utama yaitu gapura agung sampai ke depan masjid,” papar Any Virgyani selaku PPK revitalisasi kawasan Sunan Drajat, di hadapan Bupati YES.

Selanjutnya mengenai pekerjaan gapura agung, Any memastikan, tidak akan dibuatkan gapura baru atau replika, pasalnya bangunan gapura di kawasan tersebut masih asli. Menurutnya, pekerjaan itu hanya akan dilakukan dengan cara merehabilitasi bangunan aslinya.

Namun, Any melanjutkan, jika bagian dari bangunan asli itu mengalami kerusakan berat, maka akan diganti dengan material yang baru. Tetapi jika bagian bangunannya masih utuh, maka hanya akan dilakukan coating menggunakan minyak atsiri sesuai rekomendasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

“Untuk gapura agung, kita tidak membuat replika ulang, hanya merehabilitasi atau merenovasi saja, terutama di bagian atapnya. Kita buatkan baru dengan kayu jati. Berdasarkan identifikasi bersama BPCB, gapura agung tersebut kondisinya masih asli, bahkan daun pintunya pun masih asli,” terang Any.

Tak hanya merehabilitasi bagian atas gapura, Any menambahkan, nantinya juga akan dilakukan penggalian di bagian bawah gapura. Hal itu dilakukan untuk menemukan struktur pondasi eksisting gapura yang kondisinya sudah tertutup karena terjadi peninggian lantai pedestrian. “Kami akan bongkar gapura, kemudian kita rakit kembali. Tapi kita akan dibantu BPCB, karena ini merupakan bangunan cagar budaya,” sambungnya.

Lalu, jika gapura agung akan dipertahankan bangunan aslinya, maka lain halnya dengan bagian pagar. Pagar di kawasan tersebut rencananya akan diganti dengan yang baru, karena pagar itu bukanlah bangunan asli. Begitu juga dengan bagian kanopi beserta lantai pedestrian, meski konstruksi bangunannya akan dibuatkan yang baru, tetapi arsitektur dan materialnya dibuat serupa dengan bentuk aslinya.

“Hasil survey, pagar kayu sudah banyak dimakan rayap, apalagi itu bukan bangunan asli, yang asli cuma 1 sap di dekat gapura, mungkin 10 batang aja. Sementara untuk kanopi, berdasarkan identifikasi bersama BPCB, kita akan kembalikan bentuk kanopi seperti bentuk awalnya dulu. Kemudian materialnya juga sesuai dengan material zaman dulu, menggunakan kayu jati. Cuman karena di situ kondisi tanahnya gerak, jadi kita perlu perkuat pondasinya,” beber Any.

Berdasarkan data yang dihimpun, kanopi dan lantai pedestrian yang akan direvitalisasi itu sepanjang kurang lebih 150 meter, mulai dari gapura agung hingga depan masjid. “Lebar (kanopi dan lantai) rata-rata 2 meter. Tapi kalau untuk yang dari gapura agung sampai ke paseban tengah itu lebarnya 3 meter,” katanya.

Selain ketiga bangunan yang menjadi prioritas revitalisasi tersebut, pekerjaan juga akan dilakukan pada beberapa titik lain, seperti pada area anak tangga dekat parkir, dan balai rantai. “Karena balai rantai sudah agak miring, maka harus digali dulu untuk mengetahui kondisi di bawahnya,” lanjutnya.

Di akhir pemaparannya, Any menyebutkan, pekerjaan revitalisasi di kawasan Makam Sunan Drajat ini diperkirakan akan dimulai selambat-lambatnya pada awal September mendatang. “Saat ini masih proses (lelang) tender. Mulai pengerjaan paling lambat awal September, kalau tidak ada kendala di proses tendernya. Semoga lancar,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati YES mengaku sangat bersyukur, lantaran revitalisasi di kawasan Makam Sunan Drajat ini akan segera terlaksana setelah menunggu sekian lama. “Kita sudah lama mengkomunikasikan ini, awalnya saya sudah bersurat untuk meminta ada revitalisasi dan akhirnya bisa dimulai walaupun tidak seluruhnya,” ucapnya.

Bahkan pihaknya juga mengaku lega karena dalam paparan tersebut akan tetap mempertahankan bangunan asli. “Yang terpenting tidak menghilangkan historis dari bangunan-bangunan penting yang ada di situ. Jadi ini salah satu ikon kita Kabupaten Lamongan sebagai wisata religi. Selain wisata religi Makam Sunan Drajat ini, di sana (Paciran) kan ada makam Sendang Duwur, Syekh Maulana Ishaq yang nanti saya ingin jadikan satu alur wisata,” pungkas Bupati YES.[riq/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar