Jember (beritajatim.com) – Ini kisah Justyn Vicky, warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang meninggal dunia tertimpa besi barbel seberat dua kuintal di Bali. Kisah tentang seorang anak muda yang meniti karir sebagai atlet binaraga.
Catat nama aslinya: Herman Fauzi. Nama populernya: Justyn Vicky. Usianya baru 33 tahun, berasal dari Desa Ajung, Kecamatan Kalisat. “Dia sebenarnya lebih suka sepak bola, bukan binaraga,” kata Muhammad Saleh, pria yang memperkenalkannya dengan dunia binaraga pada 2010.
Saleh tidak tahu pasti alasan Herman akhirnya memilih olah tubuh di gym. “Mungkin dia gentar, akhirnya lari ke gym,” katanya, Saleh adalah pelatih pertama Herman di sana.
Saleh melihat ada tekad kuat pada sosok Herman. “Kalau maunya dia merah, ya dijalani sama dia. Apapun rintangannya,” katanya.
Tiga belas tahun silam, Herman berpamitan untuk merantau dan mencari kerja di Bali. “Mungkin mencari kerja di sini (Jember) sulit,” kata Saleh.
Sia, ibu Herman, mengatakan sang anak ingin menjadi anak Bali. “Kalau kerja di Jember tidak ada perkembangan. Kalau di Bali ada perkembangan, katanya,” kenangnya.
Herman sempat menikah dan memiliki satu anak. Belakangan dia berpisah dengan sang istri. Semula dia bekerja sebagai tukang pangkas rambut di Bali. Namun di Bali, ia menjumpai peruntungannya. Bekerja di The Paradise Bali Gym, dia berprestasi dengan menjuarai International Fitness and Bodybuilding Federation 2018.
Nama Herman pun berubah menjadi Justyn Vicky dan menjuarai pula kejuaraan angkat beban 65 kilogram dan meramaikan kontes Ultimate Body Contest pada 2011. “Dia sosok yang jadi contoh rekan-rekannya di sini,” kata Saleh.
Sabtu (15/7/2023), takdir tak bisa ditampik. Herman berlatih squat-press dengan barbel seberat 210 gram di The Paradise Bali. Besi barbel itu diletakkan di bawah leher dalam posisi duduk.
Namun Herman alias Justyn Vicky gagal berdiri karena beratnya beban. Dia kembali terduduk dengan posisi bagian leher belakang tertekan barbel. Asisten yang membantunya pun ikut terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Leher Herman patah dan saraf vital yang menghubungkan jantung dan paru-parunya rusak. Kawan-kawannya segera melarikannya ke rumah sakit. Dokter memutuskan ia harus segera dioperasi. Namun nyawanya tak tertolong.
Sia, ibu Herman, terkejut mendengar kabar buruk dari Pulau Dewata. Selama ini sang anak pulang setiap lebaran. “Dia cerita kalau kerja di (gym) binaraga,” kata perempuan berusia 51 tahun itu.
Herman sempat menelepon lewat sambungan video WhatsApp dengan Sia pada pukul empat sore saat di rumah sakit. “Bu, Ibu kangen?” tanyanya kepada Sia.
“Iya. Kamu kok ngomong begitu?” Sia balik bertanya.
“Kalau Ibu kangen, lihat saya,” kata Herman.
Sia kaget melihat anaknya berada di rumah sakit. “Lho, kenapa kamu kok ada di rumah sakit?”
“Saya habis kecelakaan di gym. Leher saya patah tulang,” kata Herman.
Mendengar itu, Sia menangis. “Sudah, Bu. Jangan menangis. Ibu berdoa saja. Saya mau operasi. Bilang ke Pakde,” kata Herman.
Sia berangkat ke Bali setelah ditelepon seorang kerabat. Sampai di Bali pukul sebelas malam, ia menemui Herman tak sadarkan diri usai operasi. Sia kembali ke Jember bersama jenazah sang anak.
Senin, 7 Agustus 2023 mendatang, Herman seharusnya berulang tahun ke -34. Namun kini hanya kuburan di tanah keluarga yang mengingantkan Sia dengan sang anak. “Anaknya baik dan ramah. Tidak pernah bertengkar dengan kawan dan orang lain,” katanya. [wir]






