Mojokerto (beritajatim.com) – Gapura Wringin Lawang terletak di Dusun Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Gapura Wringin Lawang adalah salah satu pintu gerbang menuju salah satu kompleks Ibu Kota Mojopahit.
Juru kunci Gapura Wringin Lawang, Jono (66) mengatakan, Gapura Wringin Lawang merupakan pintu masuk menuju istana. “Ini menghadap ke timur. Dugaannya tamu datang dari timur dan istana ada di barat. Iya (gapura sisi timur). Hanya pintu masuk, tidak ada (temuan lain),” ungkapnya, Sabtu (18/11/2023).
Masih kata Jono, dulu pernah ditemukan sebuah sumur yang terletak di bagian barat daya yang berada di pemukiman warga. Pertama kali ditemukan Gapura Wringin Lawang sebelah kiri bagian atas rusak, sementara sebelah kanan masih utuh seperti saat ini. Bagian yang rusak, di tahun 1991 sampai 1993 dilakukan perbaikan.
“Ada empat orang yang bertugas di sini, dua diantaranya PNS (PNS Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI). Bersih-bersih setiap hari tapi untuk bersih-bersih di bagian atas gapura dilakukan secara berkala. Kalau ritual tidak ada, ada yang kesini berdoa ya di gapura sini karena sama orang sini dipercaya sebagai punden,” katanya.
BACA JUGA: 7 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto
Mereka berdoa dengan membawa nasi tumpeng yang penyajian nasinya dibentuk kerucut dan ditata bersama dengan lauk-pauknya. Meski berada di jalur nasional Surabaya-Madiun, namun tak banyak pengunjung yang datang ke peninggalan Kerajaan Majapahit yang satu ini. Jumlah pengunjung akan meningkat saat weekend atau hari libur.
“Tidak tentu. Ramai Sabtu-Minggu, rombongan, tamu biasa. Pelajar ada yang datang sendiri, sendiri karena biasanya ada tugas dari sekolah untuk datang ke sini. Gapura Wringin Lawang ini yang paling sepi pengunjung dibanding candi-candi yang lain,” jelas juru kunci tiga generasi ini.

Dalam tulisan Raffles History of Java I disebut dengan nama ‘Gapura Jati Paser’, sementara berdasarkan cerita rakyat, Knebel dalam tulisannya tahun 1907 menyebutnya sebagai ‘Gapura Wringin Lawang’ seperti yang dikenal sampai saat ini. Bangunan ini biasa disebut demikian karena dahulu di dekat gapura (lawang) tumbuh pohon beringin.
Gapura Wringin Lawang terbuat dari bata kecuali bagian anak tangganya yang terbuat dari batu. Bentuk gapura adalah candi bentar (candi terbelah dua) dengan denah empat persegi panjang berukuran panjang 13 meter, lebar 11,5 meter, tinggi 15,50 meter dengan orientasi bangunan mengarah timur-barat dengan azimuth 2790.
Jarak antara dua gapura 3,5 meter dengan sisa-sisa anak tangga pada sisi barat dan timur. Diperkirakan anak tangga ini semula dibatasi oleh pipi tangga. Dari hasil penggalian arkeologis pada sebelah utara dan selatan gapura terdapat sisa struktur bata yang mungkin merupakan bagian dari tembok keliling.
BACA JUGA: Berdiri 230 Tahun, Ini Raja-raja Kerajaan Majapahit Mojokerto
Struktur bangunan terdiri dari kaki, tubuh, dan puncak gapura dengan hiasan berupa pelipit rata maupun sisi genta. Sebelum dipugar gapura sisi utara sebagian tubuh dan puncaknya telah hilang, tersisa tinggal setinggi 9 meter. Namun gapura ini telah utuh kembali setelah dipugar pada tahun 1991/1992 s/d 1994/1995.
Muhammad Yamin di tempat ini menemukan wajah patung tanah liat yang diinterpretasikan sebagai wajah Gajahmada. Selanjutnya beliau memperkirakan bahwa gapura tersebut merupakan pintu masuk menuju ke kediaman Gajahmada. Kepala patung tersebut sekarang disimpan di Museum Trowulan.
BACA JUGA: Raden Wijaya, Raja Pertama Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto
PmSutterheim maupun Maclaine Pont berpendapat bahwa Gapura Wringin Lawang tersebut diduga sebagai salah satu gapura masuk kota Majapahit. Dari catatan Wardenaar yang dibuat pada tahun 1815 disebutkan bahwa menurut keterangan penduduk, Gapura Wringin Lawang yang oleh Raffles adalah pintu gerbang masuk ke komplek Patih Gajah Mada.
Sementara menurut cerita rakyat yang dicatat oleh J. Knebel pada tahun 1907 menyebutkan bahwa, di keraton Majapahit dahulu terdapat empat gerbang masuk menuju alun-alun. Masing-masing di sebelah timur terletak di desa Sedati, di selatan di Desa Kumitir, di sebelah Barat terletak di Desa Trowulan, dan yang di sebelah Utara terletak di Desa Jatipasar. [tin/suf]






