Peristiwa

Kisah Keluarga Pendaki

Di Puncak Gunung Pundak Berpayung Bulan Setengah Lingkaran

Sejumlah pendaki sedang bercengkrama di puncak Gunung Pundak yang diterangi cahaya bulan, Sabtu (26/9/2020)

Mojokerto (beritajatim.com) – Bulan separuh atau bulan setengah lingkaran menggantung di cakrawala. Cahayanya yang terang menembus deretan pohon di hutan wilayah Tahura R Soerjo, Pacet, Mojokerto, Jumat (25/9/2020) malam. Sinar yang berwarna perak itu juga menelusup ke padang ilalang yang tumbuh meranggas di sekitar puncak Gunung Pundak. Semakin malam, hawa dingin di sekitar pegunungan begitu menusuk tulang.

Di puncak gunung berketinggian 1.585 mdpl itu ratusan tenda berderet beraneka warna. Jika dilihat dari kejauhan, jajaran tenda keong tersebut mirip sobekan kertas warna-warni yang ditata sedemikian rupa. Di dalam tenda-tenda itu para pendaki melakukan bermacam aktivitas. Ada yang sudah lelap terbuai mimpi, ada juga yang masih bercengkrama dengan teman satu tenda.

Hembusan angin pegunungan yang menghantam pepohonan menimbulkan suara berisik yang khas. Barisan rumput ilalang yang tingginya sekitar 50 centimeter juga meliuk-liuk seirama karena hempasan angin. Semakin lama, semakin kencang. Bahkan menenggelamkan suara dengkuran pendaki yang tidur di dalam tenda.

Angin yang awalnya sepoi-sepoi, mendadak berubah menjadi badai. Kencang dan bergemuruh. Akibatnya, sejumlah tenda ambruk karena tak kuat menahan gempuran angin. Melihat cuaca yang tak bersahabat, Ahmad Basuni (40), buru-buru keluar dari tenda. Nah, saat itulah dia melihat kawannya yang bernama M Luthfi alias Pindang (38) terjebak di dalam tenda yang sudah ambruk.

Basuni berusaha membantu. Barang-barang berserta penghuni tenda segera dikeluarkan. Setelah semuanya beres, tenda yang ambruk itu didirikan di tempat baru. Yakni, di tempat yang aman dari amukan badai. Tidak cukup sampai di situ, pria asal Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini, gantian menuju tenda miliknya.

Karena di dalam tenda itulah sang istri, Siti Ghoniyatul Marhumah alias Umah (36) dan anaknya, Rafi (7) sedang beristirahat. Basuni kemudian menggendong anaknya yang masih lelap. Di bawah keremangan cahaya bulan, dia memindahkan buah hatinya ke tenda yang lokasinya lebih aman. Sedangkan Umah ikut membantu mengangkat perlengkapan yang ada di tenda tersebut.

“Kita pindah ke barat, di sekitar padang ilalang. Di lokasi itu lebih aman dari amukan badai. Karena letaknya lebih rendah. Di sebelahnya juga ada perbukitan, sehingga angin tidak langsung menghantam tenda,” kata Basuni usai memindahkan tendanya ke tempat baru.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri) Syaiful Bahri (43) dan Siti Nurhasanah (34). Pasangan asal Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, Jombang ini juga harus bergotong-royong dengan istrinya memindahkan tenda yang mereka huni.

Lagi-lagi, tenda itu dievakusi ke sekitar padang ilalang agar selamat dari hempasan badai. Setelah semuanya beres, Basuni, Syaiful beserta istri, dan kawan-kawannya serombongan bercengkrama di depan tenda. Menyeruput hangatnya kopi di bawah sinar bulan separuh yang menggantung di angkasa.

Baik Basuni maupun Syaiful mengakui bahwa dalam mendaki gunung kerap mengajak anak istrinya. Hobi itu dilakoninya puluhan tahun. Saat keduanya masih menyandang status mahasiswa. Gayung pun bersambut, sang istri juga memiliki hobi serupa. Makanya ketika ada waktu senggang mereka selalu mendaki gunung dengan mengajak keluarga.

Bagi mereka, hidup tidak selamanya harus berlari kencang. Ada kalanya untuk berhenti, mengatur nafas, melakukan evaluasi, dan kemudian melesat untuk lebih kencang lagi. Salah satu caranya adalah menikmati alam dengan mendaki gunung.

Namun bagi mereka pendakian ke Gunung Pundak, Jumat hingga Sabtu (25-26/9/2020) itu terasa istimewa. Karena juga diikuti kawan-kawan lama mereka sesama pecinta alam, yakni saat kuliah di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang. Jumlah rombongan itu sebanyak 13 orang.

Basuni berkisah, kegemaran dia dan istrinya mendaki gunung juga menitis kepada dua buah hatinya, yakni Navis (12) dan Rafi (7). Kedua bocah itu juga gandrung mendaki gunung. Padahal dirinya tidak pernah memaksa anak-anaknya itu mengikuti hobi tersebut. “Mereka malah yang ngeyel ikut (naik gunung). Mungkin sering melihat ayahnya berangkat naik gunung,” kata jebolan Fakultas Teknik Undar Jombang ini.

Bersama keluarganya, Basuni berpetualang dari gunung satu ke gunung lainnya. Mereka biasanya menginap selama semalam di gunung yang mereka daki. Semisal di Gunung Welirang belum lama ini. “Untuk pendakian ke Gunung Pundak ini, anak saya yang pertama tidak ikut. Karena mondok di pesantren,” katanya bercerita.

Begitu halnya dengan Syaiful dan Siti Nurhasanah. Karena anaknya yang pertama sedang berada di pesantren, sehingga tidak bisa ikut dalam pendakian. Sedangkan anak keduanya sedang berada di rumah sang nenek. Padahal, biasanya kedua buah hatinya itu selalu diajak. “Saya juga tidak pernah memaksa mereka untuk menggeluti hobi mendaki gunung,” kata Syaiful yang dibenarkan oleh istrinya.

Pembelajaran Karakter Anak

Pendaki cilik Rafi bersama kedua orangtuanya, Sabtu (26/9/2020)

Bulan setengah lingkaran mulai tergelincir ke arah barat, kembali ke peraduannya. Sebagai gantinya, sinar merah tembaga menyeruak dari ufuk timur. Namun demikian, hawa dingin di Gunung Pundak masih juga menusuk tulang. Rafi (7) keluar dari tenda. Senyum ceria terpulas dari bibirnya, menyambut pagi.

Bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 MI (Madrasah Ibtidaiyah) ini bergegas menyusul ibunya yang sedang menjarang air. Bermain-main di sekitar tenda. Bahkan tidak jarang, dia memunguti sampah yang tercecer di sekitar tenda.

Siti Ghoniyatul Marhumah mengungkapkan, meski masih duduk di kelas 2 MI, namun Rafi sudah empat kali ikut pendakian ke Gunung Pundak. Semuanya tanpa paksaan. Selama di gunung, anak kedua dari dua bersaudara ini juga tidak pernah rewel.

Layaknya pendaki dewasa, tampilan Rafi juga tidak kalah menterang. Tas ransel berukuran mini menghiasai punggungnya. Topi rimba nankring di kepala. Sedangkan tangannya memegang tongkat berbahan alumunium. Dengan dikawal kedua orangtuanya Rafi menyusuri jalur menanjak menuju Gunung Pundak.

“Selain menikmati keindahan alam, menghirup udara segar dan melatih fisik, mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan untuk pembelajaran karakter, termasuk anak. Dalam mendaki gunung, anak-akan belajar untuk bersikap penuh perhitungan dan bertanggung jawab,” kata Umah, panggilan akrab Siti Ghoniyatul Marchumah.

Lebih jauh dia mengatakan, saat mendaki gunung, kondisi alam tentu tak selalu mudah diprediksi. Anak akan menghadapi medan perjalanan panjang, berliku, dan menanjak. Semua itu tentu menguras menguras tenaga. Belum lagi soal cuaca, kondisi udara, dan lainnya yang akan ditemui anak.

“Nah, dari situ anak bisa dilatih untuk tetap terus berjuang tanpa rasa putus asa. Juga untuk melatih disiplin dan menghilangkan rasa malas,” ujar alumnus Fakultas Hukum Undar Jombang ini.

Naik Gunung dan Strategi 3 Tabungan

Para pendaki berfoto bersama di puncak Gunung Pundak, Sabtu (26/9/2020)

Matahari mulai naik sepenggalah ketika tenda-tenda milik rombongan ini digulung. Seluruh peralatan kemping itu kemudian dimasukkan ke dalam tas ransel. Ceceran sampah di sekitar tenda juga disapu bersih, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik besar untuk dibawa ke bawah.

Dengan menggendong ransel besar, 13 orang ini lantas bergerak menyusuri jalan setapak turun dari Gunung Pundak. Rafi berada di barisan tengah, di belakangnya, kedua orangtuanya berjalan membuntuti. Seiring dengan itu, rumput ilalang di sekitar gunung meliuk-liuk dipermainkan angin, seolah mengucapkan selama jalan.

Meski mengasyikkan, hobi mendaki gunung cukup menguras kantung. Mulai dari peralatan, logistik, hingga biaya perjalanan. Apalagi bila mendaki gunung dilakukan secara rutin bersama keluarga seperti yang dilakukan Basuni. Ketika disodori pertanyaan itu, Basuni hanya menyunggingkan senyum.

Namun tidak demikian dengan sang istri, Umah. Dia mengakui soal hobi keluarganya yang menguras kantung. Akan tetapi, menurutnya, hal tersebut bisa disiasati dengan strategi tiga tabungan. “Di keluarga kami ada tiga jenis tabungan,” kata Umah membuka pembicaraan.

Pertama, tabungan rumah tangga. Tabungan ini, kata Umah, digunakan untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Kemudian kedua, tabungan sosial. Sesuai dengan namanya, tabungan tersebut digunakan untuk pengeluaran yang bersifat sosial. Semisal mmberikan bantuan untuk orang lain.

Terakhir adalah tabungan rekreasi. Nah, kata Umah, tabungan inilah yang digunakan oleh keluarganya untuk anggaran mendaki gunung. “Jadi begitu resepnya. Alhamdulillah, tiga tabungan ini bisa berjalan di keluarga kami,” kata Umah yang lagi-lagi ditanggapi dengan senyuman oleh sang suami. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar