Pamekasan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Pamekasan, mulai memetakan titik rawan kekeringan yang biasa terjadi di wilayah setempat.
Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memudahkan proses pendistribusian air bersih bagi warga terdampak kekeringan, khususnya memasuki musim kemarau tahun ini.
“Selama ini kami sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, seperti PDAM, Dinas Sosial dan lainnya, khususnya mengenai persiapan pendistribusian bantuan,” kata Plt Kepala BPBD Pamekasan, Yusuf Wibiseno, Rabu (14/6/2023).
Berdasar data di instansi yang dipimpinnya, terdapat sekitar 322 dusun, 72 desa di 9 kecamatan berbeda di Pamekasan, diprediksi sebagai titik rawan kekeringan dan kekurangan air bersih.
Baca Juga: Capaian PAD Pamekasan 2022 Gagal Lampaui Target
“Tapi data ini masih data sementara, karena kita mengacu pada data kekeringan tahun lalu. Tahun ini bisa saja berkurang atau bisa saja bertambah, karena pendataan oleh tim lapangan dan laporan dari desa masih belum masuk semua,” ungkapnya.
Umumnya kekeringan di Pamekasan, termasuk di wilayah Madura, terjadi akibat kemarau panjang atau curah hujan dibawah normal. “Kalau di Pamekasan, ada dua jenis kekeringan, yakni kering kritis dan kering langka,” ungkapnya.
Baca Juga: Aksi Balap Liar di Pamekasan Resahkan Masyarakat
“Kekeringan kritis terjadi karena pemenuhan air di dusun mencapai 10 liter lebih per orang per hari, jarak tempuh masyarakat pada titik air bersih sejauh 3 kilometer bahkan lebih,” jelasnya.
Sementara status kering langka terjadi karena kebutuhan air di dusun berada dibawah 10 liter saja per orang per hari. “Sedangkan jarak tempuh dari rumah warga ke sumber mata air terdekat, sekitar 0,5 kilometer hingga 3 kilometer,” imbuhnya.
“Berdasarkan data sementara, sebanyak 47 titik mengalami kekeringan langka, sedang sisanya mengalami kekeringan dengan jenis kritis,” pungkasnya. [pin/ted]






