Surabaya (beritajatim.com) – Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia merayakan Hari Pramuka Nasional sebagai wujud penghargaan terhadap gerakan kepanduan yang telah berjasa dalam membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan generasi muda.
Kata “Pramuka” merupakan singkatan dari ‘Praja Muda Karana’, yang secara harfiah berarti ‘Orang Muda yang Suka Berkarya’.
Pada tahun ini, Gerakan Pramuka Indonesia memasuki usia ke-62 sebagai salah satu organisasi pendidikan nonformal yang telah menjalankan tugas mulianya dalam memberikan pendidikan kepanduan kepada para generasi penerus bangsa.
Sejarah Gerakan Kepanduan di Indonesia
Sejarah Gerakan Kepanduan di Indonesia memiliki akar yang panjang dan menarik. Awal mula gerakan kepanduan di Indonesia dimulai dengan munculnya gerakan kepanduan Belanda yang bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada tahun 1912.
Namun, pada tahun 1914, gerakan kepanduan tersebut memisahkan diri dari NPO dan berdiri sendiri dengan nama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.
BACA JUGA: Kwarcab Sidoarjo Peringati Hari Pramuka ke-62 dengan Ziarah Makam Pahlawan
Kala itu, gerakan kepanduan ini hanya terdiri dari orang-orang keturunan Belanda, dan belum melibatkan masyarakat Indonesia. Namun, kemajuan gerakan kepanduan dari Belanda memicu timbulnya gerakan kepanduan bumiputera, yang dikenal sebagai Javaansche Padvinders Organisatie.
Inisiatif gerakan kepanduan bumiputera ini diprakarsai oleh Pemimpin Keraton Solo, Mangkunegara VII. Dari sana, muncul berbagai organisasi kepanduan di Indonesia dengan berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya.
Berbagai gerakan kepanduan yang muncul di Indonesia menghasilkan perkembangan pesat dalam bidang kepanduan. Bahkan, Indonesia turut berpartisipasi dalam Jambore Kepanduan Dunia di Belanda pada tahun 1937.
Keikutsertaan Indonesia dalam acara tersebut dan pendirian Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem membuka jalan menuju terbentuknya Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta pada 29 Desember 1945.
Inilah awal dari terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia, namun organisasi ini sempat dilarang oleh pihak Belanda pada masa Agresi Militer tahun 1948.
BACA JUGA: ISMI Jatim Apresiasi Festival Wakaf Indonesia 2023
Walaupun Pandu Rakyat Indonesia dilarang, masyarakat tidak berhenti dan tetap mendirikan organisasi kepanduan baru seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Pada masa itu, terdapat sekitar 100 organisasi kepanduan yang beroperasi, dan semuanya bersatu dalam wadah Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Sayangnya, upaya tersebut belum mampu menyatukan gerakan kepanduan secara utuh dan masih terpecah-pecah.
Sejarah Hari Pramuka Indonesia
Sejarah perayaan Hari Pramuka Indonesia pada tanggal 14 Agustus melanjutkan tonggak sejarah gerakan ini. Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang juga dikenal sebagai Pandu Agung, memiliki gagasan untuk meleburkan berbagai organisasi kepanduan menjadi satu kesatuan nasional yang diberi nama Pramuka.
Gagasan tersebut pertama kali diungkapkan oleh Presiden Soekarno saat mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, Ciputat, Tangerang pada Oktober 1959.
Langkah selanjutnya adalah meresmikan Pramuka sebagai wadah resmi gerakan kepanduan di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961. Hari tersebut kini dikenal sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.
BACA JUGA: BMKG Pasuruan Pasang Seismograf Fenomena Alam Bunyi dan Getaran di Moncek Tengah Sumenep
Pada 20 Mei 1961, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang menetapkan Gerakan Pramuka. Tanggal ini juga dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.
Pada 20 Juli 1961, para perwakilan organisasi kepanduan di Indonesia secara resmi menyatakan bergabung ke dalam Gerakan Pramuka di Istana Olahraga Senayan.
Akhirnya, pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan ke masyarakat dalam upacara yang digelar di halaman Istana Negara. Saat itu, Presiden Soekarno menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka periode pertama.
Sejak saat itu, 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Indonesia dan menjadi momen penting untuk merayakan semangat kepanduan serta mengenang perjuangan dalam membentuk wadah gerakan kepanduan nasional.
Dalam kesempatan ini, mari kita sambut dengan penuh kebanggaan dan semangat Hari Pramuka Indonesia yang tak hanya memperingati sejarah, tetapi juga menginspirasi kita untuk terus melibatkan diri dalam pembangunan karakter generasi muda yang tangguh, bertanggung jawab, dan mencintai bangsa. Selamat Hari Pramuka. (mnd/nap)






