Jember (beritajatim.com) – Perilaku perempuan warga lembaga permasyarakatan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, rentan terjangkit penyakit. Hal ini dikarenakan keterbatasan kondisi di lapas, seperti penggunaan air bersih dan alat pembersih untuk keperluan sehari-hari.
Hal ini dikemukakan Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Jember M. Nur Khamid, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, Jumat (7/10/2022). PKBI memberikan perhatian terhadap kebersihan vagina agar tidak terkontaminasi penyakit dan kondisi para perempuan kerika masuk Lapas dengan berbagai permasalahan.
“Pendidikan mereka banyak yang hanya lulusan SD, bahkan tidak sekolah. Dengan demikian pengetahuan tentang penyakit alat reproduksi sangat minim,” kata Nur Khamid. Di sinilah kegiatan penyuluhan sangat penting untuk menyosialisasikan cara menjaga reproduksi wanita yang baik dan benar selama berada sel tahanan. Ini karena diketahui banyak faktor penyakit seperti HIV, asma, penyakit kulit yang ditemukan di dalam lapas.
Saat ini, tingkat hunian Lapas Kelas 2A Jember sudah melebihi kapasitasnya. Jumlah penghunu lapas saat ini 1.047 orang. Padahal kapasitasnya hanya 390 penghuni. Narapidana dewasa dipisahkan dengan narapidana anak, perempuan, dan lansia.
“Mereka nantinya dipindah ke rutan yang memenuhi syarat, misalkan di Malang dan untuk anak di Blitar. Sementara di Lapas Jember kita pisahkan di blok A untuk anak, antisipasi agar tidak terjadi pemikiran-pemikiran bahwa anak tersebut dilecehkan atau didoktrin ketika mereka keluar malah lebih nakal lagi,” kata Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Lapas Jember, Hendri Astromino.
Kondisi ini membuat Unit Medical Center (UMC) Universitas Jember menggelar penyuluhan kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan bagi para warga binaan perempuan, Kamis pagi (6/10/2022) kemarin. Bekerjasama dengan PKBI, 25 orang warga binaan di blok wanita bergiliran mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”universitas-jember”]
UMC Universitas Jember menurunkan empat orang tenaga kesehatan dan empat orang kader mahasiswa kesehatan alat reproduksi. Mereka memeriksa kesehatan para warga binaan lapas dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga alat reproduksi guna untuk mencegah berbagai penyakit pada warga lapas tersebut.
“Tidak hanya penyuluhan ada pemeriksaan kesehatan yang diataranya pemerikasaan darah, Pemberian Vitamin, suplemen kesehatan dan konsultasi terkait penyakit yang telah diderita para narapidana wanita,” jelas Nur Khamid.
Program PKBI tidak hanya memantau saat seseorang manjadi warga binaan lapas, namun juga memantau para mantan warga binaan lapas ketika keluar atau bebas. “Sekalipun kita punya data mereka. Mereka rata-rata menghilang, namun khusus mereka yang terjangkit HIV kami pantau secara rutin, terkait perilaku mereka misalnya ketersediaan obat-obatan yang harus mereka konsumsi,” kata Nur Khamid. [wir/ted]






