Magetan (beritajatim.com) – Perajin cincau hitam atau janggelan di Desa Tanjungsari Kecamatan Panekan, Magetan, Jawa Timur, kebanjiran pesanan di bulan suci Ramadhan. Hal ini menyebabkan produksi cincau hitam meningkat 12 kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Di hari biasa kami produksi cincau hitam hanya 10 kilogram, tapi saat bulan Ramadhan ini produksi 120 kilogram per hari,” kata Nur Cholis, perajin cincau hitam, Rabu (15/3/2024).
Cholis mengatakan, peningkatan permintaan ini terjadi karena cincau hitam banyak diminati sebagai takjil untuk berbuka puasa. Cincau hitam diolah menjadi berbagai minuman segar, seperti dawet dan kolak.
“Biasanya permintaan meningkat ini karena digunakan pembeli untuk takjil minuman sebagai menu berbuka puasa,” ungkapnya.
Harga cincau hitam di pasaran relatif murah, yaitu Rp 25.000 per loyang kotak, Rp 50.000 per bak atau ember besar, dan Rp 50.000 per cetakan blek.
Untuk bahan baku cincau hitam diperoleh dari Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek.Kendati harga bahan baku seperti tepung tapioka mengalami kenaikan, Cholis tidak menaikkan harga cincau hitamnya. Hal ini dilakukan agar pembeli tetap bisa menikmati cincau hitam dengan harga terjangkau.
“Meski ada bahan baku yang naik, dan pesanan banyak kami tidak menaikan harga cincau saat ini,” bebernya.
Salah satu pembeli, Fadhila, mengatakan dia suka mengonsumsi cincau hitam, terutama saat bulan Ramadhan. Cincau hitam diolahnya menjadi minuman segar untuk berbuka puasa.
“Kalau minum pakai cincau rasanya lebih adem di tenggorokan, harganya juga murah Rp 2 ribu per potong,” pungkasnya. [fiq/but]






