Bondowoso (beritajatim.com) – Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Bondowoso hingga akhir April 2025 masih menunjukkan angka yang rendah. Dari alokasi 32 ribu ton pupuk Urea, baru sekitar 10 ribu ton atau 31 persen yang berhasil tersalurkan. Begitu pula dengan pupuk jenis NPK, yang baru tersalurkan 10 ribu ton dari total alokasi 22 ribu ton, atau sekitar 36 persen.
Manajer Penjualan PT Pupuk Indonesia Wilayah Jawa Timur, Sri Purwanto, menyebutkan bahwa sejumlah kendala menjadi penyebab rendahnya serapan pupuk di lapangan. “Beberapa kecamatan di Bondowoso mengalami serangan hama. Selain itu, curah hujan tinggi dan banjir juga mempengaruhi kondisi lahan pertanian,” jelas Purwanto usai acara serap aspirasi pengecer pupuk di Hotel Ijen View, Bondowoso, Selasa (13/5/2025).
Meski demikian, Purwanto optimistis bahwa pada Mei 2025, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi dapat mencapai angka ideal, yakni 40 persen dari total alokasi. PT Pupuk Indonesia juga memastikan distribusi pupuk dilakukan melalui distributor dan kios resmi, termasuk gudang yang ada di Bondowoso.
Sistem distribusi pupuk bersubsidi kini menggunakan aplikasi T-Pubers, yang memastikan penyaluran pupuk kepada petani berdasarkan nama dan NIK. “Sejauh ini, kami tidak menemukan kesalahan data nama dan NIK hingga April ini,” tambahnya.
Dalam acara tersebut, ada beberapa peserta yang mengusulkan agar Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi dinaikkan. Mereka berpendapat, dengan adanya kenaikan HET, margin keuntungan kios akan bertambah, yang dapat meningkatkan kinerja penyaluran serta mencegah penyelewengan. Meski demikian, usulan tersebut harus tetap mempertimbangkan kewajaran dan penerimaan masyarakat serta petani. [awi/beq]






