Jember (beritajatim.com) – Moch. Eksan, penulis buku ‘Kerikil Dibalik Sepatu Anies’, membedah pidato kenegaraan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia. Ia menyebut pidato kenegaraan yang disampaikan pada Minggu (20/10/2024) itu sebagai pidato terbaik Prabowo.
“Banyak pihak menilai pidato tersebut sangat luar biasa yang mencerminkan pemikiran, sikap dan tindakan yang akan dilakukan dalam memimpin Indonesia,” kata Eksan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (21/10/2024).
Menurut Eksan, rakyat bisa menyaksikan sosok Prabowo yang terbuka dan apa adanya. “Dari pidato tersebut sangat jelas mau kemana arah pemerintahannya. Sekarang tinggal, secara teknokratis dan teknis diterjemahkan dalam program yang riil dan dapat dirasakan oleh rakyat secepatnya,” katanya.
Pertama, menurut Eksan, Prabowo bertekad melaksanakan sumpah janji presiden dengan sebaik-baiknya, penuh tanggungjawab, serta dengan segala kekuatan yang ada, baik jiwa maupun raga. “Dia akan melaksanakan pemerintahan negara dengan tulus, dan menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan,” katanya.
Prabowo juga dinilai Eksan melihat bangsa dan negara ini tengah menghadapi berbagai tantangan, rintangan, hambatan dan ancaman dalam pergulatan dunia. “Namun, dengan segala potensi manusia dan alam, Indonesia harus berani menghadapinya. Apalagi, sumberdaya alam yang dimiliki menguasai hajat manusia di abad 21,” katanya.
Eksan juga menemukan, bahwa Prabowo memandang sejarah Indonesia sebagai bukti nilai keberanian. “Bukan hanya bersumber dari keberanian para pemimpin tetapi juga dari keberanian rakyat dalam menghadapi invasi politik militer,” katanya.
Prabowo memahami bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah. Ini hasil pengorbanan, terutama rakyat kecil yang sukarela memberi makan para tentara dalam perjuangan kemerdekaan.
“Namun Prabowo menyadari, bahwa kemerdekaan masih belum bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Masih banyak rakyat yang miskin yang belum bisa mencukupi kebutuhan pangan dan sandang putra-putrinya yang sekolah,” kaya Eksan.
Prabowo memaknai bangsa merdeka adalah rakyat merdeka. “Rakyat yang bebas dari ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan dan penderitaan,” kata Eksan.
“Di sini Prabowo mengajak semua pemimpin dari berbagai kalangan, baik dari para ulama, cendekiawan, politisi, pengusaha, pemuda maupun mahasiswa, untuk menghadapi tantangan dari luar tapi juga yang bersumber dari dalam negeri, sehingga selalu mawas diri dan mau memperbaiki diri,” kata Eksan.
Satu hal yang menjadi catatan Eksan adalah pengakuan Prabowo tentang korupsi masih merajarela dan menghubungkannya dengan patriotisme. Prabowo mengakui jebocoran anggaran terjadi di mana-mana. “Penyelewengan anggaran ini lantaran banyak praktik kolusi antara para pejabat dan pengusaha yang tak patriotik,” kata Eksan.
“Prabowo menekankan ketauladanan para pejabat dalam memberantas korupsi, sembari memperbaiki sistem penegakan hukum serta digitalisasi pengadaan barang dan jasa,” kata Eksan.
Eksan memuji Prabowo yang mengingatkan bangsa ini agar tak mudah puas dengan angka-angka statistik yang memukau. “Sementara angka kemiskinan masih tinggi. Begitu pula dengan angka gizi buruk. Semua pihak harus berhimpun serta bersatu untuk mencari solusi terbaik mengeluarkan rakyat dari penderitaan,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam tersebut.
Prabowo meyakini swasembada sebagai kunci pembangunan. Eksan mencatat perhatian Prabowo pada swasembada pangan dan energi.
Dalam hal swasembada pangan, menurut Eksan, Prabowo ingin itu diwujudkan selambat-lambatnya lima tahun mendatang. “Semua itu bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, bahkan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia,” katanya.
Sementara untuk swasembada energi, Eksan melihat Prabowo berkomitmen agar bangsa ini punya sumberdaya energi terbarukan yang bersumber dari kelapa sawit, jagung, tebu, singkong, sagu dan lain sebagainya. Selain, energi bawah tanah seperti geotermal, batubara, dan air.
Yang melegakan Eksan, Prabowo tidak sepenuhnya meninggalkan subsidi untuk rakyat. “Prabowo akan mengubah pola subsidi kepada subsidi langsung keluarga. Anak-anak harus mendapatkan makanan bergizi minimal satu kali sehari. Dengan sistem digital, bantuan subsidi bisa dipastikan sampai pada yang berhak untuk melindungi kesejahteraan rakyat,” katanya.
Program hilirisasi pun, lanjut Eksan, harus memberikan nilai tambah bagi peningkatan ekonomi nasional. “Seluruh rakyat harus dapat menikmati hasil pengelolaan komoditas untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Tawaran Prabowo, menurut Eksan, adalah kepemimpinan yang berani untuk membuat terobosan untuk menembus ketidakmungkinan, termasuk dalam hal pengentasan kemiskinan.
“Prabowo berpendirian untuk mencapai cita-cita besar, bangsa ini butuh kebersamaan, persatuan dan kolaborasi. Bukan pertengkaran dan bertikaian yang tak berkesudahan. Para pemimpin yang arif dan bijak serta tak mengumbar caci maki antar sesama. Selain, cinta pada budaya dan adat istiadat sendiri,” kata Eksan.
Eksan memberikan catatan keinginan Prabowo terhadap munculnya demokrasi khas Indonesia, yakni demokrasi yang berdasarkan kedaulatan rakyat. “Kerakyatan merupakan sendi utama dari lima sila Pancasila. Demokrasi yang menghargai perbedaan pendapat tanpa permusuhan. Koreksi tanpa caci maki. Kompetisi tanpa benci. Indonesia membutuhkan demokrasi yang damai, sejuk, dan teduh serta jauh dari kemunafikan,” katanya.
Eksan melihat keinginan Prabowo terhadap demokrasi khas Indonesia tak lepas dari pndangan bahwa kekuasaan adalah milik rakyat. “Kedaulatan ada di tangan rakyat. Mereka yang berkuasa atas izin rakyat, sehingga menjalankan kekuasaan demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, bukan untuk kerabat atau diri sendiri,” katanya.
Pandangan seperti ini, menurut Eksan, membuat Prabowo mengajak semua pihak yang berseberangan untuk bergabung dalam pemerintahan dengan alasan bersama membangun negeri.
Sementara itu, dalam hal politik luar negeri, Eksan melihat Indonesia di bawah Prabowo tidak akan mau mengikuti pakta-pakta militer manapun. “Prabowo ingin Indonesia menjadi negara sahabat bagi semua negara. Filosofi ini yang dianut adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” kata Eksan.
Namun Eksan meyakini Prabowo tetap akan menjalankan prinsip antipenjajahan, antipenindasan, dan antirasialisme, meski Indonesia menjadi sahabat bagi semua negara.
“Negeri ini pernah dijajah, ditindas dan direndahkan oleh bangsa asing pada zaman kolonial. Maka Prabowo menyatakan dukungan Indonesia atas kemerdekaan Palestina. Pemerintahannya bertekad untuk meningkatkan bantuan yang lebih besar bagi korban perang yang tidak adil,” katanya. [wir]






