Jombang (beritajatim.com) – Penggalian situs di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang, memasuki hari ketiga, Kamis (1/8/2019). Dalam penggalian tersebut tim menemukan benda kuno berupa ‘jaladwara’ atau pancuran air terbuat dari batu andesit.
Benda peninggalan era Majapahit tersebut ditemukan saat pekerja menggali di kedalaman sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Karaun saja, benda keras tersebut menyita perhatian petugas. Selanjutnya, benda itu diangkat ke permukaan dan dibersihkan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”majapahit”]
Nah, dari situlah terlihat batu andesit dengan ukuran panjang 55 sentimeter, lebar 25 sentimeter dan tebal 15 sentimeter. Pada bagian atas batu tersebut terdapat lubang memanjang sebagai jalan air. Tepat pada bagian ujung lubang tersebut membentuk kepala naga.
Pada bagian kepala strukturnya juga lengkap. Terdapat telinga, mata, hidung, serta mulut naga. Nah, pada bagian mulut itulah berfungsi sebagai tempat keluarnya air. Sehingga seolah-olah ular naga sedang memuntahkan air.
“Benda ini terbuat dari batu andesit. Namanya jaladwara atau pancuran air. Dengan ditemukannya pancuran ini, semakin menguatkan dugaan kami bahwa situs ini adalah petirtaan atau pemandian kaum bangsawan pada zaman Majapahit,” ujar Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Wicaksono Dwi Nugroho, sembari menunjukkan benda yang dimaksud.
Di tempat tersebut Wicaksono kemudian melakukan uji coba guna meyakinkan bahwa batu tersebut adalah benar-benar pancuran. Dia menggelontorkan air satu ember ke pancuran batu itu. Cairan bening tersebut mengalir deras dan keluar lagi lewat mulut naga. “Nah, seperti ini. Air yang melewati pancuran, akan jatuh ke dalam petirtaan,” katanya.
Menurut Wicaksono, benda tersebut kemungkinan bukan hanya satu, namun ada beberapa buah. Karena biasanya terpasang mengelilingi petirtaan. Soal kepala naga, lanjut Wicaksono, juga memiliki filosofi tersendiri. Dia menjelaskan, dalam legenda kuno naga merupakan hewan yang dikeramatkan. “Artinya, selain digunakan untuk petirtaan. Lokasi ini juga digunakan untuk upacara penyucian. Ini terbukti adanya pancuran berkepala naga,” ujarnya menegaskan.
Arkeolog BPCB Jatim ini menjelaskan, penggalian situs di Dusun Sumberbeji sudah memasuki hari ketiga. Seiring dengan itu, struktur bata kuno yang ada di lokasi juga semakin terlihat. Berawal dari sungai bawah tanah yang menggunakan struktur bata kuno, mengalir ke struktur bangunan lain yang ukurannya lebih besar menyerupai kolam.
Ukuran sementara yang sudah terlihat lebarnya 12 meter, sedangkan panjangnya masih terus dilakukan penggalian. “Kalau sungai bawah tanah ini kita ambil titik tengah, maka lebar kolam sekitar 24 meter. Namun, yang sudah terlihat 12 meter. Ini bagian atas,” katanya.
Wicaksono mengatakan bahwa penggalian terus dilakukan hingga dua hari kedepan. Selanjutnya, pihak BPCB akan melakukan kordinasi terkait tindak lanjut situs tersebut. “Ekskavasi ini selama lima hari. Kita sudah lakukan selama tiga hari. Kesimpulan sementara, situs ini merupakaan petirtaan dan tempat penyucian pada era Majapahit,” pungkas Wicaksono. [suf]








