Madiun (beritajatim.com) – Polres Madiun menindaklanjuti kasus pengeroyokan yang viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu dini hari (11/5/2025) sekitar pukul 00.15 WIB di depan sebuah toko di Jalan Raya Munggut, Kelurahan Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
Dalam kejadian tersebut, korban berinisial AIS bersama rekannya, JR, sedang berhenti di sebuah toko untuk membeli bensin dan rokok. Tiba-tiba, sekelompok pemuda yang mengendarai konvoi sepeda motor melintas dari arah utara. Sebagian dari mereka berhenti dan langsung melakukan pengeroyokan terhadap AIS. Korban dipukul, ditendang, bahkan dipukul menggunakan wadah galon air, serta dipaksa melepas kaos yang dikenakannya.
Kapolres Madiun, AKBP Mohammad Zainur Rofik, menyampaikan Satreskrim Polres Madiun telah mengamankan total 14 orang terkait kejadian ini. Dari jumlah tersebut, 5 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, 2 merupakan korban, dan 7 lainnya berstatus sebagai saksi.
“Pasal yang kami sangkakan adalah Pasal 170 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun 6 bulan. Sebagian pelaku merupakan anak di bawah umur, proses penyidikan juga mengacu pada UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak,” jelas Kapolres saat konferensi pers di Gedung Tantya Sudhirajati, Kamis (15/5/2025).
Lebih lanjut, Kapolres Madiun menegaskan pengeroyokan ini bukan merupakan pertikaian antar perguruan pencak silat sebagaimana yang ramai dibicarakan.
“Ini adalah aksi kekerasan yang dilakukan oleh komunitas bernama All PemudaHijrah023. Kelompok ini dari berbagai daerah seperti Sragen, Rembang, Ngawi, dan Jombang, dan berkumpul di Madiun untuk suatu pertemuan,” ujarnya.
Polres Madiun juga mendalami lebih lanjut siapa yang menyebarkan ajakan berkumpul serta motif di balik tindakan tersebut.
“Kami akan tindak tegas segala bentuk kegiatan yang mengarah pada premanisme. Ini bukan lagi soal perbedaan daerah, tapi sudah mengganggu keamanan masyarakat,” tegas Kapolres.
Di akhir pernyataannya, Kapolres Madiun menghimbau kepada seluruh orang tua agar lebih memperhatikan dan mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah anak-anak terlibat dalam tindakan yang melanggar hukum. [fiq/but]






