Surabaya (beritajatim.com) – Film terbaru besutan sutradara kawakan Joko Anwar berjudul “Pengepungan di Bukit Duri” siap tayang di bioskop Indonesia mulai 17 April 2025. Film bergenre drama-thriller ini bukan hanya menghadirkan ketegangan, tapi juga menyuarakan isu-isu sosial penting yang terjadi di Indonesia, seperti kekerasan remaja, pendidikan, diskriminasi, dan trauma sosial.
Film ini menjadi kolaborasi perdana antara rumah produksi Indonesia, Come and See Pictures, dengan studio film besar Hollywood, Amazon MGM Studios. Kehadiran Film Pengepungan di Bukit Duri ini sekaligus menjadi tonggak sejarah kerja sama internasional yang membanggakan di industri perfilman Tanah Air.
Dalam peluncuran trailer resmi di Royal Plaza Surabaya, Minggu (13/04). Joko Anwar menyampaikan bahwa film ini terinspirasi dari kondisi sosial Indonesia yang dinilai sedang tidak baik-baik saja. Ia menekankan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film bukan untuk mengungkit masa lalu, tetapi sebagai bentuk refleksi dan peringatan untuk pentingnya generasi muda memahami sejarah Indonesia, termasuk peristiwa kelam seperti kerusuhan tahun 1998.
“Kalau dibilang banyak adegan sadis, justru kenyataan di lapangan saat ini lebih sadis. Film ini bukan untuk mengorek luka lama, tapi untuk menyadarkan publik agar tragedi seperti kerusuhan 1998 tidak terulang,” jelas Joko Anwar saat konferensi pers, didampingi pemeran utama Morgan Oey dan Omara Esteghlal.
Joko menegaskan bahwa dirinya tidak menargetkan jumlah penonton tertentu, tetapi berharap film ini dapat menjangkau kawula muda, termasuk generasi Z, agar bisa menjadi bahan renungan dan diskusi tentang kondisi sosial saat ini.
Film ini mengikuti kisah Edwin diperankan Morgan Oey, yang berusaha memenuhi janji kepada mendiang kakaknya untuk menemukan keponakan yang hilang. Penelusuran tersebut membawanya menjadi guru di SMA Duri—sekolah khusus bagi anak-anak bermasalah.
Namun, ketika akhirnya Edwin menemukan keponakannya, situasi kota berubah kacau. Kerusuhan melanda, dan Edwin harus bertahan di dalam sekolah sambil melindungi diri dari para murid brutal yang kini menjadi ancaman nyawa.
“Negara kita itu kayak kaca yang paling tipis,” ujar Morgan Oey dalam salah satu adegan di trailer, menegaskan betapa rapuhnya stabilitas sosial saat ini.
Film ini juga menyoroti isu diskriminasi sosial, ketidakadilan terhadap profesi guru, serta dampak trauma masa lalu yang belum selesai. Semua dikemas dalam narasi yang intens dan menyentuh nurani.
“Ini bukan sekadar cerita, tapi refleksi dari apa yang terjadi di sekitar kita. Film ini relevan dan menyentuh sisi kemanusiaan,” ungkapnya.
Morgan Oey menyebut perannya sebagai proses terapi personal. Ia berharap film ini bisa menjadi medium diskusi terbuka tentang kekerasan, diskriminasi, dan pentingnya pembenahan pendidikan di Indonesia.
Sementara itu, aktor Omara Esteghlal menambahkan bahwa film ini juga mengangkat bagaimana lingkungan sosial memengaruhi cara generasi muda membentuk kebencian. “Seringkali mereka membenci tanpa tahu penyebabnya. Film ini bisa menjadi medium untuk membuka ruang diskusi,” jelasnya.
Pengepungan di Bukit Duri bukan hanya film aksi-thriller biasa. Ia adalah cermin, kritik sosial, dan ajakan untuk berubah. Dengan jalan cerita yang kuat, visual yang mencekam, serta pesan moral yang dalam, film ini layak menjadi salah satu film Indonesia paling dinantikan tahun 2025. (ted)






