Pamekasan (beritajatim.com) – Elemen mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Pamekasan, diminta agar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tidak khianat dan selalu menjunjung tinggi nama baik almamater, yakni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.
Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, KH Mohammad Faisol Abd Hamid dalam Resepsi Pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) IMABA Pamekasan, Periode 2025-2026, di Ballroom Hotel Cahaya Berlian, Jl Raya Panglegur Nomor 69-71 Pamekasan, Kamis (10/7/2025).
Pelantikan yang mengusung tema ‘Refleksi Nilai Pengabdian sebagai Barometer Kader IMABA Menuju Perubahan’, dinilai sebagai momentum tepat untuk merefleksikan diri melalui nilai-nilai pesantren menuju perubahan yang lebih baik untuk masa depan.
“Tema ini barometernya ada pada kita sendiri, apa yang kita lakukan akan menjadi tolak ukur bagi organisasi. Jika benar tidak akan ada komplain dari orang lain, namun terjadi sebuah pengkhianatan sekecil apapun, itu akan ada rasa tidak nyaman dalam berorganisasi,” kata Mohammad Faisol Abd Hamid.
Selain itu IMABA Pamekasan, juga dinilai sebagai rumah besar bagi IMABA di seluruh Indonesia, tidak terkecuali yang berbasis di luar negeri. “IMBA Pamekasan menjadi keyword dari IMABA itu sendiri, karena Pamekasan berdekatan dengan sumber dan pendirinya. Sehingga dibutuhkan effort lebih untuk menerjemahkan apa yang diinginkan Pesantren Bata-Bata,” ungkapnya.
“Selama ini banyak juga teman-teman santri aktif yang berhenti dan berkuliah di luar pesantren, maka hal itu menjadi salah satu tugas berat bagi teman-teman IMABA untuk mengarahkan para santri, mau kemana dan seperti apa alumni baru ini untuk menjadi cikal bakal pemberdayaan santri di masa mendatang,” imbuhnya.
Bahkan para para alumni khususnya yang berproses di IMABA, juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakat secara utuh. “Dalam hal ini tentunya semangat perubahan menjadi lebih baik, bukan justru menjadi perubahan tidak baik,” tegasnya.
“Meminjam istilah Almarhum Kiai Thohir (KH Moh Thohir Abd Hamid), andai Imam Syafii masih hidup di masa sekarang, mungkin beliau akan merasa bosan karena kitanya saja yang dikaji, dan tidak ada santri yang mau melanjutkan untuk menjadi mujaddid baru. Tapi tidak apa-apa, menjadi mujaddid itu tidak hanya dalam masalah agama, tapi memudahkan hidup masyarakat secara umum juga menjadi bagian dari mujaddid,” jelasnya.
Sebagai organisasi berbasis pesantren, IMABA harus kembali pada role model awal maupun tujuan yang sudah ditetapkan. “Mari kita kawal bersama, kita arahkan bersama dan kita majukan bersama. IMABA bukan milik perorangan, bukan pula milik sekelompok tertentu, apalagi senior atau alumni yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.
“Tolong hal ini diberi tanda petik yang besar, karena karena kami tidak ingin IMABA ini menjadi alat untuk mempermudah apa yang diinginkan alumni atau senior yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang disampaikan Almarhum KH Mohammad Hasan Abd Hamid; ‘saujhauna be’en berkak dha’emma’a bhai, pagghun mole ka roma’. Jangan pernah mengkhianati rumah, karena rumah pasti dibutuhkan, dan karena rumah pasti dirindukan,” tegasnya.
Sebuah refleksi menjadi poin penting untuk mengembalikan sebuah nilai pengabdian bagi anggota IMABA. “Pengabdian itu merupakan bentuk tanggungjawab dengan apa yang kita lakukan, bertanggung jawab dengan apa yang dipilih. Sesakit apapun pilihan, maka itu harus tetap dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun akhirat,” sambung Kiai Faisol.
“Maka dari itu, kami ingin mengatakan bahwa kami sangat bangga sekali terhadap alumni. Seperti dawuh KH Abd Hamid AMZ, allahumma ighfur lahu; ‘engkok bangga KA alumni se bisa ajagha nama baik pondhuk, ajie padha bhan aghellhuk bhule’. Artinya bertanggung jawab itu sudah lebih dari cukup dari ekspektasi kami sebagai keluarga besar Pondok Pesantren Bata-Bata,”
Bentuk tanggungjawab tersebut dapat ditunjukkan dengan menjaga diri, serta tidak menambah beban moral bagi pesantren. “Kita harus menjadi orang yang bertanggung jawab dan yang bisa dibanggakan oleh para Muassis Pondok Pesantren Bata-Bata, karena memang begitu tujuan IMABA didirikan. Oleh karena itu, jangan menggunakan IMABA sebagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan,” pintanya.
“Sekali lagi kami tidak bosan-bosan mengingatkan, hati-hati dengan pengkhianatan. Sebab pengkhianatan itu tidak pernah hadir karena adanya niat dari pelaku, tetapi justru karena adanya kesempatan dan kemungkinan, serta karena adanya kenyamanan yang dinikmati,” pungkasnya. [pin/aje]






