Malang (beritajatim.com) – Pakar politik Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin, S.AP., M.PA., menilai debat calon presiden ke-3 Prabowo telah menjadi musuh bersama bagi Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Hal ini akan membuat luka pada Prabowo karena Anies maupun Ganjar tidak ada penjelasan di luar forum debat yang ditawarkan Prabowo.
“Akhirnya kita melihat keunggulan Anies dan Ganjar jauh di atas Prabowo dalam tema debat capres ke-3 ini. Kelihatannya debat ini akan membuat kenaikan elektabilitas bagi Anies dan Ganjar secara signifikan,” kata Andyka melalui sambungan WhatsApp, Senin (8/1/2024) pagi.
Menurut Andhyka, sapaanya, Anies bahkan membuka dengan bahasa vulgar terhadap Prabowo dan Jokowi terkait penguasaan lahan ratusan ribu hektar milik Prabowo yang gagal membangun ketahanan pangan dalam kasus Food Estate. Anies juga menyinggung soal anggaran pertahanan untuk membeli alutsista bekas dan gagal dalam etika.
“Soal Jokowi lebih disorot sebagai pemimpin yang tidak punya kemampuan diplomasi kelas dunia, cuma datang dan pulang dalam event event Internasional,” jelas pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini.
Ganjar semula mengambil sikap damai pada Prabowo ternyata berubah memberi serangan keras. Ganjar menilai Prabowo tidak mempunyai penjelasan yang benar tentang pemutusan hubungan kerja pembuatan kapal antara PT. PAL dan Korea Selatan.
“Soal penjelasan Prabowo terkait usia pesawat tempur, misalnya Mirage punya Qatar, berhubungan dengan kesiapan pemakaiannya/deterrent, bahkan Ganjar punya data serius soal isu ketahanan,” tutur Andhyka.
Menurut dosen administrasi publik UB ini, terkait hutang luar negeri, Prabowo meyakini utang dapat mencapai 50% PDB karena Indonesia masih terbaik di dunia soal hutang. Anies meminta agar hutang dibatasi hanya 30%.
“Menurut Anies kehati-hatian soal hutang penting karena bisa menjadi sumber masalah. Kemampuan membayar utang, kata Anies, harus dilihat dari sisi kemampuan pemasukan negara. Anies minta pembelian alutsista harus satu paket dengan utang. Ganjar menyoroti pemikiran John Perkins soal bahayanya utang najis atau odious debt,” papar pria yang menjalani S1 di UB jurusan administrasi publik ini.
Andhyka menilai serangan kepada Prabowo dikuantifikasi oleh Ganjar dan Anies secara simultan. Ganjar memberi nilai keberhasilan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan Jokowi dengan nilai jeblok dengan angka 5. Ganjar yakin tentang nilai itu karena berbasis indeks pencapaian Indonesia yang menurun dalam penilaian berbagai lembaga internasional bidang militer dan pertahanan.
“Ketika Prabowo menuduh Ganjar tidak mempunyai data yang benar, Ganjar bahkan menawarkan Prabowo untuk mendatangkan stafnya dalam debat, untuk beradu data. Ketika Ganjar memberi nilai kesuksesan Prabowo di angka 5, Anies merespon bahwa nilai Prabowo hanya nilai 11 dari 100, jauh lebih buruk lagi,” jelasnya.

Anies menekankan agar permasalahan ketahanan dan keamanan dilihat dari pergeseran tantangan, bukan old views. New views harus melihat adanya tantangan baru, yang merupakan konsekuensi cyber world. Pemimpin harus mempunyai etika, melindungi keluarga, dan menjadi pemimpin diplomatik Indonesia di dunia.
“Ganjar melihat Garda Samudera merupakan strategi baru. Strategi ini membutuhkan anggaran ditingkatkan 1-2%. Prioritas di ranah laut diutamakan, kemudian udara, dan lainnya secara proporsional. Dari debat kali ini kita melihat Anies dan Ganjar telah menjadi musuh bersama buat Prabowo,” kata Andyka menutup. [dan/aje]






