Surabaya (beritajatim.com) – Bakal calon presiden (bacapres) PDI Perjuangan Ganjar Pranowo melakukan pertemuan empat mata dengan Menkopolhukam Mahfud MD, pada Minggu (10/9/2023). Pertemuan ini mendapat tanda tanya besar dari banyak pihak. Termasuk apakah Ganjar akan menggandeng Mahfud MD sebagai bacawapresnya.
Pengamat politik asal Universitas Airlangga, Suko Widodo menilai bahwa Mahfud MD dapat mendongkrak elektoral Ganjar Pranowo di pilpres 2024 dari kalangan milenial.
Menurutnya, Mahfud memiliki magnet atau daya tarik yang kuat bagi pemilih mendatang yang menginginkan penegakan hukum dan pemberantasan kriminalitas baik white collar crime atau blue collar crime.
“Nah pemilih milenial melek digital dan paham akan memilih orang yang memiliki track record yang jelas dan Mahfud MD masuk di dalam kriteria itu. Saya melihat dari media sosial, komunikasi politik, kinerja, dan isu-isu, saya kira dari aspek popularitas dan tren preferensi cukup tinggi di Mahfud MD. Skalanya itu nasional bukan hanya di jawa timur semata,” kata Suko, Senin (11/9/2023).
Apalagi, saat ini data pemilih milenial mencapai 61 persen dari total pemilih. dan lebih dari 70 persen pemilih milenial itu melek digital dan memiliki akses untuk mencari track record orang yang akan mereka pilih. Sejauh ini bagi Suko, Mahfud MD menjadi sosok yang kuat bagi anak muda.
Meski secara usia bukan lagi milenial, namun Mahfud bisa masuk ke segmentasi itu tanpa khawatir dan tanpa polesan. Ia bisa menjelaskan duduk persoalan hukum dan bisa memberikan solusi bagi problem yang selama ini jadi pembicaraan anak muda.
“Kelebihan Mahfud MD selain memiliki track record kinerja yang jelas, pak Mahfud bisa menjembatani Ganjar dengan para pemilih dari kalangan nahdliyin,” katanya.
Apalagi, lanjutnya, PBNU sudah menegaskan bahwa PBNU tidak bermain politik, maka kesempatan Mahfud sangatlah terbuka lebar. Selain itu, keaktifkan Mahfud MD di dunia digital membuatnya lebih mudah berkolaborasi dengan Ganjar yang selama ini juga aktif di dunia digital.
“Mendongkrak elektoral. Sangat mungkin. Saat ini kan kader-kader NU lebih bebas untuk berkomunikasi dengan siapapun, karena PBNU tidak berafiliasi langsung dengan PKB. Hari ini itu Mahfud bagaikan magnet, terutama di pemilih milenial ya,” ujar Suko.
“Popularitas cukup tinggi, kinerja oke, NU, berasal dari Jatim, ya sangat bisa berpasangan. Jika mereka mau dipasangkan, saya rasa tinggal diujicobakan saja, di testing water. Dilihat nanti respon dan ukuran keterpilihannya,” katanya.
Tak hanya itu, sosok nahdliyin yang melekat pada Mahfud MD bisa membuka jalan bagi Ganjar Pranowo untuk silaturahmi dengan ulama dan kiai-kiai khos Jawa Timur. Di Madura pun, bisa jadi Ganjar akan memiliki suara yang lumayan dengan adanya sosok Mahfud MD.
Bagi Suko, selain pembahasan atau brainstorming visi, misi, dan program, pertemuan Ganjar dan Mahfud juga bisa dilihat sebagai komunikasi penjajakan keduanya untuk Pilpres mendatang.
“Apapun nanti posisi yang akan diemban Mahfud MD, baik sebagai bacawapres maupun tim sukses, Ganjar sudah memiliki ide besar yang sudah ia godok bersama menteri asal Madura tersebut. Apalagi di Jawa Timur, Ganjar juga butuh sosok untuk merangkul pemilih yang berbasis santri atau kaum nahdliyin, termasuk milenial,” pungkasnya.[asg/kun]
BACA JUGA: Soal Cawapres Ganjar, Nasional Religius Dinilai Masih Ideal






