Yogyakarta (beritajatim.com) – Manuver Budiman Sudjatmiko mantan pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang kini berlabuh di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan kemudian mendukung capres Prabowo Subianto mengejutkan tokoh dan elit politik Nasional.
Atas langkahnya tersebut PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo memberi sinyal akan melakukan pemecatan atau meminta Budiman untuk mundur dari partai Banteng moncong putih ini. Banyak yang tak paham akan langkahnya melakukan akrobat politik menghadapi Pemilu 2024.
Pengajar di Fikomm (Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) dan Peneliti Data Politik Indonesia, Nastain Muhamad, M.IKom kepada beritajatim.com, Senin (21/8/2023) berpendapat langkah politik Budiman Sudjatmiko berdamai dengan Prabowo merupakan sebuah sikap politik yang sangat berani.
Ia sendiri juga menyatakan rasa terkejutnya atas manuver yang dilakukan Budiman Sudjatmiko yang kemudian masuk ke kubu Prabowo.
“Sampai hari ini saya belum mendapatkan analogi motivasi utama Budiman Sudjatmiko merapat ke Prabowo. Tetapi dari sekian banyak informasi sudah ada banyak yang menyebutkan bahwa ada potensi dirinya mengarah ke Cawapres,” tutur aktivis reformasi tersebut.
Baca Juga: Prabowo dan Budiman Sudjatmiko Sepanggung di Semarang Deklarasi Capres
Ditanya mengenai apakah PDIP akan merugi memecat salah satu kader terbaiknya Budiman Sudjatmiko, Nastain menilai PDIP adalah partai besar dengan potensi kader berkualitas yang luar biasa banyak.
“Kehilangan satu orang Budiman Sudjatmiko bukanlah sebuah kerugian besar bagi PDIP, hanya saja memantik keresahan,” tegasnya.
Nastain menilai pasca Budiman Sudjatmiko dipecat dari PDIP akan memantik sebuah keresahan tersendiri bagi parpol yang telah menghantarkannya menjadi anggota DPR RI beberapa waktu silam ini.

Hal ini karena Budiman Sudjatmiko bukanlah sosok biasa dalam pertarungan terkait isue dan dunia perpolitikan.
Posisi dan track record-nya sebagai aktivis dan korban represi Orde Baru (Orba) menjadi isu seksi dalam dua kali kontestasi politik pemilihan presiden (pilpres) 2014 dan 2019, dan isu seksi yang populis ini terbukti berhasil menghantarkan PDIP sebagai pemenang Pilpres selama dua periode.
Baca Juga: Besok PDIP Umumkan Sanksi Budiman Sudjatmiko, Pilihannya Mundur Atau Dipecat
Nastain menambahkan terkait dengan terbentuknya relawan Prabowo Budiman Bersatu (Prabu) sebagai gerbong relawan Prabowo masih harus diukur dan diuji efektifitasnya kedepan.
“Apakah gerbong Prabu efektif merubah persepsi publik atau hanya sekedar gerbong kosong yang mencoba menggeret sejarah masa lalu. Jawabannya ada di Prabowo, Budiman Sudjatmiko dan parpol parpol pendukungnya tentu saja,” tutupnya. (aje/ted)






