Magetan (beritajatim.com) – Penggagas Local Government and Political Research Institute (Logopori) sekaligus pengamat politik di Magetan, Muries Subiantoro, menyoroti peran ‘botoh’, semacam bandar taruhan, dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Magetan. Dia menilai bahwa tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun tokoh pemuda tidak akan terlalu berpengaruh dalam hasil PSU dibandingkan dengan botoh.
“Kalau dari kacamata saya ya sebagai pengamat politik lokal di Magetan, saya kok tidak melihat ada terlalu signifikansi terkait pengaruh apa tokoh-tokoh yang ada di luar partai, pengurus maupun partai pendukung,” ujar Muries, Senin (17/3/2025)
Menurutnya, meskipun ada tokoh yang menjadi bagian dari pemilih di empat TPS yang menggelar PSU, pengaruh mereka terhadap hasil akhir tetap terbatas. Yang justru memiliki dampak lebih besar adalah keberadaan botoh, terutama di kubu 01 dan 03.
“Justru menurut saya peran urgen sekarang di konteks PSU itu sebenarnya bukan peran tokoh yang Jenderal sebutkan tadi tetapi peran botoh, Mbak. Ini jangan lupa. Jadi peran botoh ini nanti seperti apa,” lanjutnya.
Botoh dalam konteks politik lokal adalah sosok yang memiliki pengaruh dalam mobilisasi pemilih, terutama melalui faktor logistik dan politik uang. Muries menyoroti bahwa dalam situasi head-to-head seperti ini, peran botoh akan menjadi semakin dominan dan menentukan.
“Karena saya takut ini head to head ya, kompetisi yang tinggal sekali ini saja untuk menentukan pemenang, maka pengaruh botoh apakah di Kubu 01 maupun di Kubu 03 terutama karena kalau Kubu 02 tidak ada pengaruhnya, itu sejauh mana peran para botoh yang ada,”
Ia juga menegaskan bahwa pasangan 02 tidak akan terdampak oleh peran botoh, karena perhitungan politik di Magetan menunjukkan bahwa kemenangan pasangan ini tidak akan dipengaruhi secara signifikan oleh dinamika lokal di empat TPS tersebut.
Yang menjadi perhatian utama Muries adalah bagaimana peran botoh dapat mengarah pada praktik politik uang dan ketidakadilan dalam proses demokrasi.
“Jadi menurut saya bukan tokohnya, bukan apakah itu tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda yang bisa mempengaruhi, tapi justru peran botoh itu yang akan bisa mempengaruhi terkait pemilih nanti. Kalau bicara botoh itu kan berarti peran terkait logistik ya, logistik keuangan, mani politiknya dan sebagainya,” tambahnya.
Dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa jika peran botoh semakin dominan, PSU bisa menjadi tidak fair dan tidak demokratis.
“Nah, kalau prediksi saya ini benar terkait peran botoh ini menjadi signifikan, ya menurut saya akhirnya menjadi pilkada yang agak lebih tidak fair, tidak demokratis karena sudah ditambahi dengan iming-iming terkait uang, mani politik dan seterusnya,” katanya.
Muries berharap pemilih di empat TPS yang melaksanakan PSU dapat mempertahankan kemandirian mereka dalam memilih, tanpa terpengaruh oleh tekanan maupun politik uang.
“Saya berharap pemilih itu benar-benar bisa punya kemandirian lah. Punya kemandirian untuk memilih siapapun itu tanpa ada paksa-paksa, rayuan tanpa ada embel-embel yang lain dan sebagainya. Harapannya seperti itu tetapi kita juga harus mengantisipasi bagaimana peran botoh nanti seperti apa,” tutupnya.
Dengan budaya politik di Magetan yang masih dipengaruhi oleh tradisi Mataram, Muries menegaskan bahwa peran botoh adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa diabaikan dalam setiap kontestasi politik. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan botoh dalam proses demokrasi lokal. [fiq/beq]






