Malang (beritajatim.com) – Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh unggahan kontroversial Dwi Sasetyaningtyas (DS), seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam potongan video yang viral di TikTok dan X (dahulu Twitter), DS memicu polemik besar setelah menyatakan enggan anak-anaknya memegang status Kewarganegaraan Indonesia (WNI).
Sembari menunjukkan dokumen kewarganegaraan asing milik buah hatinya, DS melontarkan kalimat yang dianggap meremehkan identitas bangsa: “Cukup saya saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Menurutnya, langkah tersebut diambil demi menjamin nasib dan masa depan anak-anaknya di kancah global.
Pernyataan ini sontak menuai kecaman netizen. Nama Dwi Sasetyaningtyas bahkan memuncaki trending topic lantaran adanya kontradiksi tajam antara statusnya sebagai lulusan yang dibiayai oleh pajak rakyat (APBN) dengan sikapnya yang dinilai tidak nasionalis.
Menanggapi isu tersebut, Dekan Vokasi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., memberikan pandangan tegas terkait komitmen kebangsaan.
Menurut Kholid, beasiswa luar negeri adalah investasi negara untuk mencetak generasi unggul yang memiliki kompetensi global guna meningkatkan daya saing Indonesia.
“Beasiswa itu bersumber dari pendapatan negara, termasuk pajak rakyat. Maka ada kewajiban moral dan hukum bagi penerimanya untuk tetap berkontribusi kepada Indonesia,” ujar Kholid di sela kegiatan kuliah tamu di Universitas Brawijaya, Rabu (25/2/2026).
Ia menambahkan bahwa berkarier di luar negeri atau menjadi diaspora adalah hak setiap individu. Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan tanah air.
“Silakan berkarier di luar negeri, itu hak. Tapi jangan lelah mencintai Indonesia dan tetap memberikan kontribusi dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Senada dengan Kholid, tokoh nasional yang juga alumni UB, Ira Puspadewi, Ph.D., melihat fenomena ini dari sudut pandang mentalitas. Mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (2017-2024) ini menilai tantangan terbesar SDM Indonesia bukanlah kecerdasan intelektual, melainkan keberanian mental.
“Orang Indonesia itu pintar-pintar, tapi mental untuk menjadi warga global masih tertinggal dibanding negara lain seperti India, Singapura, hingga Filipina,” ungkap Ira.
Berdasarkan pengalamannya selama 17 tahun di perusahaan multinasional seperti GAP (perusahaan ritel AS), Ira mengamati bahwa diaspora Indonesia cenderung sulit beradaptasi dan kurang percaya diri dalam berkomunikasi di level internasional.
“Hambatannya bukan teknologi, melainkan psikologis. Banyak yang belum siap menjadi diaspora karena faktor ketahanan mental jauh dari keluarga,” jelasnya.
Pernyataan itu muncul dalam agenda Kuliah Tamu bertajuk “Fly High and Stay Grounded?” yang diselenggarakan oleh Departemen Bisnis dan Hospitality Fakultas Vokasi UB di Gedung Widyaloka.
Acara yang dipandu oleh Direktur Disway Malang, Agung Pamujo, ini bertujuan membuka cakrawala 400 mahasiswa agar berani menembus batas teritori tanpa kehilangan identitas.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Azna Abrory, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kehadiran praktisi seperti Ira Puspadewi sangat krusial bagi pendidikan terapan.
“Sebagai pendidikan vokasi, kami butuh insight nyata dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Mahasiswa harus termotivasi melihat peluang karier yang luas namun tetap membawa nama baik bangsa,” pungkas Azna. (dan/but)






