Lumajang (beritajatim.com) – Warga penerima bantuan program keluarga harapan (PKH) dan bantuan pangan non-tunai (BPNT) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur diperbolehkan untuk menghapus tulisan “keluarga miskin” tertulis di tembok rumah.
Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati pada, Rabu (30/7/2025). Selain itu, dalam unggahan di akun media sosial milik Pemkab Lumajang juga dibagikan momen saat Bunda Indah memberitahu warga boleh melepas tulisan “Keluarga Miskin” di tembok rumah.
Sebagai informasi, pemberian tanda berupa tulisan “keluarga miskin” bagi keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan PKH dan BPNT setidaknya sudah ada sejak 2019.
Menurut Indah Amperawati, anjuran kepada warga untuk menghilangkan tulisan yang ada di tembok rumah bagi keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan PKH dan BPTN dilakukan karena alasan kemanusiaan.
“Saya kasihan melihatnya itu huruf yang terpampang besar-besar, jadi ini alasannya karena kemanusiaan saja,” terangnya ketika dikonfirmasi, Rabu (30/7/2025) malam.
Kebijakan tersebut, diakui sudah diberlakukan untuk semua warga Lumajang yang di tembok rumahnya terdapat stiker atau tanda lain yang menyebutkan sebagai kategori keluarga miskin.
“Jadi semua boleh dilepas atau ditutupi tulisan itu, nanti juga harus disampaikan ke warga-warga yang di rumahnya ada tulisannya,” tegasnya.
Anjuran untuk penghapusan tulisan keluarga miskin diakui menyimpan harapan agar warga bisa segera terbebas dari kemiskinan. Sehingga, mereka juga diharapkan dapat memiliki semangat juang untuk bisa mandiri dan sejahtera.
“Tentu ini supaya mereka semangat dengan menghapus tulisan ini kemiskinannya juga diharapkan bisa hilang. Jadi mereka bisa semangat berusaha jadi keluarga yang mandiri dan sejahtera,” ucapnya.
Meski tulisan keluarga miskin dihilangkan, proses pendistribusian bantuan sosial untuk warga tidak mampu dipastikan bakal tetap berjalan sama seperti biasa. Selain itu, proses penyaluran bantuan juga diakui akan dipastikan tepat sasaran meski tidak ada tulisan tersebut.
Sebab, para KPM untuk bantuan sosial tersebut sudah ada di dalam data terpadu sosial ekonomi nasional (DTSEN) yang akurasinya cukup tinggi untuk mendeteksi calon penerima bantuan.
“Sekarang sudah ada DTSEN, InsyaAllah akan bisa tepat sasaran untuk pemberian bantuannya. Ini juga penyaluran nya masih sama seperti sebelum-sebelumnya, jadi hanya tulisan keluarga miskin nya saja yang dihilangkan,” ungkapnya. (has/ted)






