Surabaya (beritajatim.com) – Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan metode produksi bensin berbahan baku kelapa sawit yang lebih efisien. Inovasi ini menekan residu produksi sekaligus mempercepat langkah transisi energi hijau di Indonesia.
Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menilai bensin sawit atau Benwit menjadi solusi strategis di tengah gejolak geopolitik global saat ini. Teknologi tersebut diharapkan mampu memangkas ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar fosil dunia.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” tutur Bambang, Selasa (7/4/2026).
Bambang menegaskan bahwa penguatan sektor energi domestik melalui riset kampus sangat mendesak demi menjaga stabilitas ekonomi. Menurutnya, inovasi ini menjadi pembuka jalan bagi kemandirian energi nasional melalui pengolahan sumber daya lokal.
“Inovasi bensin sawit karya tim peneliti ITS ini bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” tegasnya.
Ketua peneliti Hosta Ardhyananta menjelaskan risetnya fokus pada pemurnian minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Tim menggunakan teknik catalytic cracking untuk memecah molekul besar menjadi fraksi bahan bakar ringan.
“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta.
Awalnya proses ini memakai katalis alumina dengan suhu operasi mencapai 420 derajat Celsius. Namun, skema tersebut hanya menghasilkan konversi biogasoline sekitar 60 persen sehingga dinilai kurang maksimal untuk kebutuhan industri.
Tim kemudian menyempurnakan metode melalui katalis bimetalik berbasis nikel oksida dan tembaga oksida. Formasi ini menurunkan suhu operasional menjadi 380 derajat Celsius serta meningkatkan rendemen produk hingga menyentuh 83 persen.
Hosta menyebut produk akhir didominasi hidrokarbon rantai pendek yang memiliki karakteristik setara dengan bensin komersial. Selain bensin, proses produksi ini juga menghasilkan residu cair yang tetap memiliki nilai manfaat ekonomi.
“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar pakar material lulusan ITS tersebut.
Hosta menambahkan bahwa teknologi inovasinya kini sudah mulai diimplementasikan terbatas pada berbagai mesin pertanian. Penggunaan biogasoline pada sektor agraria dianggap paling siap karena mesinnya memiliki fleksibilitas modifikasi yang cukup tinggi.
“Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,” ungkap Hosta.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany berencana membawa hasil riset ini ke tingkat nasional. Koordinasi dengan kementerian terkait segera dilakukan agar inovasi tersebut masuk dalam skala uji coba massal.
“Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor bahan bakar minyak dari negara luar,” tegas Taufany.
Pihaknya akan segera menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI sebagai mitra strategis pengembangan. Taufany berharap teknologi ini menjadi proyek percontohan nasional untuk mengatasi ancaman krisis energi masa depan.
“Kami akan berkoordinasi dengan pihak kementerian agar produk inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional dalam waktu dekat,” pungkasnya. [ipl/aje]






