Surabaya (beritajatim.com) – Meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas Indonesia pada tahun 2023 lalu terutama di tingkat pelajar membuat institusi terkait (polisi, Jasa Raharja dan Dinas Pendidikan) berinisiatif memasukkan pelajaran pendidikan lalu lintas dalam kurikulum sekolah. Inisiatif ini disambut baik oleh pemerintah dan akan berlaku mulai tahun ajaran 2024 ini.
Direktur Utama PT Jasa Raharja, Rivan Achmad Purwantono mengatakan, pendidikan lalu lintas ini masuk ke dalam kurikulum dari kelas 1 sampai 12. Yang mana dalam kurikulum tersebut akan terus diajarkan mengenal lalu lintas dan bagaimana cara berlalu lintas yang baik dan benar. Dia mencontohkan di Jepang, dengan memasukkan kurikulum ini angka kecelakaan menurun drastis.
” Dengan memasukkan pendidikan lalu lintas ke dalam kurikulum, harapannya angka kecelakaan tersebut bisa dikurangi,” ujar Rivan disela acara sosialisasi program Diseminasi Model Integrasi Pendidikan Lalu Lintas (PPL) bersama guru se Jawa Timur.
Masih kata Rivan, tingginya angka kecelakaan di pelajar ini juga bisa menjadikan Indonesia terancam kemiskinan karena dari jumlah korban tersebut 66 persen diantaranya adalah laki-laki dalam kelompok usia produktif.
” Para korban tersebut, 66 persennya adalah laki-laki. 45 persen adalah usia produktif maka berpotensi kemiskinan,” ujarnya.
Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Brigjen Pol Bakharuddin Muhammad Syah menjelaskan, setiap tahunnya angka kecelakaan yang melibatkan Gen Z atau pelajar selalu menempati posisi tertinggi. Tahun 2022 misalnya, tercatat sebanyak 137.000 kasus kecelakaan yang melibatkan 150.455 korban dengan persentase kematian sebanyak 70 persen. “Untuk kasus kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi pada usia 15 tahun hingga 19 tahun,” terang Bakharuddin.
Dijelaskan Bakharuddin, Polri menangani 7.180 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia sejak 1 hingga 21 Agustus 2023. Data itu didapat dari IRSMS Korlantas Polri yang diakses pada Selasa 22 Agustus 2023 pukul 12.00 WIB. Kecelakaan mengakibatkan 782 orang meninggal, 9.053 orang luka ringan dan 779 orang luka berat.
Sebanyak 42.080 orang terlibat sebagai pengemudi saat kecelakaan. “Mirisnya, sebanyak 6.004 pengemudi masih berusia di bawah 17 tahun, atau kurang lebih 14,3 persen dari jumlah tersebut,” terang Bakharuddin.
Melalui kegiatan ini, Bakharuddin berharap dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya. “Edukasi ini merupakan wujud nyata kepedulian kita bersama kepada masyarakat, khususnya terhadap anak-anak. Sehingga diharapkan nantinya tertanam sikap disiplin sejak usia dini dan kelak dewasa nanti menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas bagi orang di sekitarnya,” harap Bakharuddin. [uci/but]






